Minggu, 01 April 2018

1.God's Gift: Sang Pemain




(Chapter 1)
Malaikat-malaikat pilihan

Ikhlas

Waktu berjalan menggoreskan sejarahnya yang baru, rangkaian waktu yang tercatat sebagai sejarah baru yang tertulis untuk sebuah jiwa yang dikirim Tuhan untuk mengisi permainan hidup yang Ia diciptakan, yang melekat dalam benak hingga akhir. Momen dimana sebuah jiwa baru nan suci memulai perjalanan nya yang penuh cerita. Jiwa yang akan ditempa oleh berbagai macam duri dalam hidup, merasakan madunya anugerah Tuhan dengan berbagai macam cara-Nya yang unik. Menghujamkan diri pada sebuah titik. Titik dimana ia akan bertahan, entah akan bertahan sampai akhir atau berhenti. Saya adalah jiwa yang Tuhan percaya untuk bisa merasakan dunia-Nya yang begitu rumit. Rumit bagai sebuah permainan. Saya tak tahu apa yang harus saya jalani, namun hari ini perjalanan itu akan dimulai. Saya sang pemain baru, memiliki begitu banyak tanya dalam benak, hingga terlalu banyak untuk diucap. Saya terpilih untuk menjadi bagian dari permainan ini, tanpa saya bisa memilih untuk menyetujui nya atau tidak. Ragu dan bingung adalah sahabat terbaik untuk hal-hal baru. Namun keyakinan itu harus muncul. Harus saya buat untuk menjatuhkan keraguan yang ada. Keraguan tentang apa dan bagaimana saya nanti, bagaimana akhir perjalanan saya di selasar ujung jari Tuhan. Namun, selama saya bermain bersamanya, saya percaya tidak ada hal yang patut saya ragukan. Dia-lah Maha dari segala kehebatan yang Ia ciptakan, tanpa terkecuali, tak terbantahkan. Tapi apakah saya satu-satunya? Apakah hanya saya yang ada dalam genggaman tangan dan pandangannya?. Entahlah, dalam benak hanya ada keyakinan yang bertambah. saya yakin ada pemain lain untuk dilengkapi kisahnya, permainan yang sudah dimulai bahkan sebelum saya ada. 
Mengapa dari milyaran sel-sel yang terlepas dan berenang bebas menuju indung telur hanya saya yang berhasil bertahan sampai sejauh ini? Bagaimana Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa rencanya-Nya memilih saya untuk bermain?. Perlu usaha yang keras untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa apa yang berasal dari Tuhan itu yang terbaik, karena yang manis tidak selalu menyembuhkan. Tuhan adil, jadi jangan lagi ditanyakan kalau tak ingin ada keraguan. Tuhan tahu saya ini pemain baru, butuh panduan untuk bermain, untuk mengerti jalan cerita. Butuh pengenalan. Tuhan yang begitu ramah, dalam kuasa-Nya yang tanpa batas, membuktikan itu. Ia mengirimkan malaikat-malaikat pelindung jiwa-Nya, dengan begitu manis agar jiwa yang haus akan butiran-butiran pengalaman ini menjalani permainan dengan baik, mengajarkan aturan main yang sudah Tuhan tetapkan, agar saya tidak salah dalam menentukan langkah. Malaikat yang saya kenal karena kehangatan sentuhan dan senyuman, yang saya merasa nyaman dan terlindungi saat bersamanya, saya sendiri tak tahu apa itu, siapa mereka. Saya belum mengenalnya.
Butiran-butiran sejarah itu satu-persatu mulai jatuh dan membekas, menimbulkan gurat-gurat pertanyaan besar yang menuntunku mencari jawaban dari satu titik ke titik yang lain hingga membentuk sebuah lekukkan gambar dan membuat saya belajar mengenali semua yang saya temui dan rasakan. Perlahan sisi-sisi gelap itu mulai tersibak oleh nyala cahaya. Memberi sebuah jawaban. Saya ternyata terpilih untuk melengkapi sebuah tim. Tim yang akan bersama saya dalam perjalanan melalui permainan ini. ‘Oh ternyata saya tidak sendirian’ pikirku sejenak. Sepertinya ini akan menjadi sebuah petualangan yang seru, dan beuntungnya saya menjadi salah satu diantara mereka, paling tidak saya tidak sendiri di dunia antah berantah ini. Kelompok itu dikenal-(bersambung)

2.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: Ikhlas)

 sebagai keluarga. Sebagai pemain baru, saya rasa Tuhan cukup adil memilihkan jalan ini untuk saya, perjalanan yang saya bahkan tidak tahu akan menjadi perjalanan seperti apa nanti, akankah mudah atau memerlukan keringat berlebih untuk dijalani, tapi yang pasti untuk bisa menang, saya harus tahu permainan yang sedang  saya mainkan, dan saya hanya punya pilihan untuk maju, maju atau menjadi sebuah masa lalu yang hanya bisa diingat.
Semoga Tuhan memberiku alasan terbaik menempatkan saya disisi mereka. Waktu yang berjalan begitu anggun, masa-masa yang baru ini, alunan irama hidup ini begitu saya nikmati. Saya berharap selamanya seperti ini, tidak ada yang berubah sedikitpun, tetap mengalir tenang, bak air dalam telaga yang jernih dengan segala arahnya bergerak, mengalun menyusuri setiap sisi yang dilaluinya. Kenikmatan yang selalu membuai hingga titik yang tidak seharusnya saya bertepi. Yang membuat saya lupa bahwa ada hal yang harus saya selesaikan. Ada perjalanan yang harus saya tempuh. Saya harus bergerak.
Perjalanan yang sudah dilalui begitu mengajarkan banyak hal, namun tetap saja permainan ini belum begitu saya pahami sepenuhnya. Saya masih harus terus belajar dan belajar sampai saya tahu, sampai saya mengerti setiap sudutnya, dan menuliskan akhir seperti apa yang akan saya mau. Permainan ini penuh dengan inkonsistensi situasi, namun kadang berulang membuat saya belajar akan banyak hal. Mengajarkan saya untuk harus belajar berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri, menyisipkan Tuhan untuk semua langkah yang akan saya jalani. Perubahan yang membimbing untuk berjalan diatas kaki sendiri, kaki yang dengan sempurna nya Tuhan ciptakan, kesungguhan Tuhan yang kurasakan begitu hebatnya dalam diri, hingga akhirnya saya sadar, bahwa Tuhan  menitipkan malaikat yang begitu indah dan kuat dalam diri setiap ciptaan-Nya. Malaikat yang setia menemani di setiap keadaan yang menempa. Melekat seperti keluarga tapi jauh lebih dalam, lebih terikat. Malaikat dalam diri ini lah yang menjadi kejutan berikutnya setelah keluarga. Saya ingin mengenalnya lebih jauh. Setelah apa yang saya lalui, saya tidak ingin membuatnya lemah, saya akan melatihnya, harus lebih kuat. Entah ini bagian dari permainan Tuhan atau bukan, tapi ini jalan berikutnya yang akan saya pilih.
Saya percaya Tuhan sudah memilih ribuan pemain dijemari nya untuk diperhatikan. Kuharap Tuhan tahu apa yang sedang Ia mainkan, saya percaya Ia hebat, keyakinan saya penuh akan kuasa-Nya, harapku juga besar mengisi ribuan harapan sang pemain yang sedang bertarung. Saya terpilih, dan saya tidak bisa mundur, keadaan memaksa saya untuk terus maju, melangkah walau hanya 1 inci ke depan. Sudah menjadi sifat dasar malaikat-malaikat seperti saya ini untuk mau tahu, meski kadang tak mau peduli. Semua saya lalui, perlahan saya belajar memahami kepingan demi kepingan yang terurai dipikiran, terlilit dalam ketidaktahuan, meski kadang keraguan masih terus membayangi atas apa yang saya jalani. Keraguan atas takdir ini. Takdir yang membawa saya menjalani hal-hal yang belum saya temui, rasakan dan pikirkan sebelumnya. Terkadang saya memilih untuk merangkak, agar tidak terjatuh terlalu dalam. Menjalani kehidupan setiap harinya dengan baik, rapi dan teratur, mengikuti pola yang sudah terbentuk. Hidup yang saya sendiri tidak memilih untuk menjalaninya, dan perlahan waktu membuatnya terbiasa untuk dijalani.


Ruang kosong
Perjalanan ini memulai babak barunya. Hari demi hari berganti menjadi tahun hingga akhirnya saya tercebur dalam pengulangan situasi. Saya senang karena setiap hal berjalan dengan begitu baiknya. Saya merasa Tuhan menggerakan jarinya dengan ramah, tanpa mengoyak tali disisi jari yang lain, tapi saya merasa ada aneh, karena sesungguhnya saya tidak pernah mau-(bersambung)

3.God's Gift: Sang Pemain


(lanjutan: Ruang Kosong)

memulai ini. Saya bahagia, saya akui permainan ini menyenangkan, bahagia untuk hal yang saya sendiri tidak tahu dari mana dan apa yang membuatnya begitu hebat dan begitu melekat, bahkan hingga saat ini. Hingga pada suatu titik saya bertanya pada diri saya sendiri ‘apa yang saya inginkan?’, ‘apa yang saya cari selama ini?’, ‘apa yang harus saya lakukan?’. Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak, tapi belum ada jawaban pasti yang mampu menghentikan. Mengapa Tuhan menenggelamkan saya begitu dalam, dengan cara yang begitu lembut. Tuhan memberi saya hidup dan merasakan kebebasan, tapi dengan lembutnya saya dituntun ke tempat yang bahkan saya sendiri tidak tahu ini apa. Terikat oleh tali yang saya rajut sendiri. Saya merasa tersesat, tapi dijalan yang begitu lurus, rapi dan nyaman. ‘Saya diciptakan dengan baik, dengan kesungguhan oleh Tuhan, saya sempurna, tak kurang suatu apapun’, itulah sebait kata yang selalu ada dalam benak untuk menunjukan rasa syukur yang bisa terus saya ingat saat saya terperosok keraguan dalam menjalani hidup, dan memilih bertahan untuk tetap percaya bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, selalu ada kekosongan, entah itu secara kasat mata atau bahkan yang hanya bisa disentuh oleh mata jiwa. Kekosongan yang hanya bisa isi oleh rasa ikhlas atau oleh Tuhan. Tempat yang selalu kosong yang hanya memiliki 2 penghuni. 
Manusia memang sempurna, sempurna dalam ketidaksempurnaannya, mungkin itulah alasan Tuhan mengajarkanku untuk terus belajar memahami hidup. Itu juga yang sering saya dengar dalam perjalanan. Seperti botol kosong yang berdiri tegak, selalu butuh seseorang untuk mengaliri diri ini dengan kesempatan-kesempatan, oleh mereka yang juga memiliki awal, yang memiliki seribu tanya, yang akan selalu ada mengapa dalam setiap lembar kisahnya. Untuk saling melengkapi. Tuhan perlahan mendewasakanku, dan hebatnya, Tuhan melakukannya tanpa bertatap muka. Tuhan begitu mampu membuat saya berpikir akan hal-hal yang awalnya saya kira hanya akan didapat dari mereka yang berjuang bersama saya, dari keluarga, dari malaikat-malaikat yang mengikatku dengan erat meski tanpa tali. Keyakinanku semakin bertambah, tali itu bahkan semakin kuat. Tuhan telah mengajarkanku dalam kemisteriusannya. Ia ternyata telah mengetuk pintu itu. Pintu diruangan kosong. Menitipkan pesan bahwa berfokus pada mengapa dan tidak dari-Nya hanya akan membuat saya berjalan mundur, menjauh dan tersesat dari ya yang Tuhan janjikan. Karena terkadang tidak semua mengapa memiliki jawaban. Terus mengajukan pertanyaan hanya akan membuat saya diliputi lelah yang tak berkesudahan, namun bagaimanapun jawaban untuk setiap pertanyaan memang harus ditemukan. Saya hanya harus menjalani setiap detik kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, karena mungkin itulah cara teraman dalam permainan ini. Entah dalam perjalanan nanti saya bertemu kerikil, tertusuk duri, tersesat, terseret ombak, terhantam angin yang membuai nyaman. Saya biarkan Tuhan memainkan perannya, Tuhan tidak sekejam itu membiarkan saya yang Ia ciptakan dengan kesungguhan, dipilih dari milyaran yang lain dan bertahan sejauh ini, berhenti hanya karena hal yang konyol, kalaupun saya pada akhirnya harus berhenti dari permainan ini, alasan itu harus hebat, batu yang menindih harus lebih besar dari kuasa Tuhan yang menciptakan. Malaikat dalam diri harus bertarung hingga titik terakhir. Karena saya yakin malaikat yang Tuhan titipkan menjaga ruang kosong ini dengan baik, dengan hebat, karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak hebat dari Tuhan. Saya hanya perlu menerimanya, mengenalnya, memahaminya, mendalami, melatih dan mensyukurinya, karena malaikat itu terus bersama saya, ia ada karena saya ada. Selalu ada alasan atas segala yang Tuhan tetapkan. Belajar dan pahami. Saya hanya perlu menyenangkan Tuhan. Sampai waktunya Tuhan datang kembali, malaikat harus menjaga ruang kosong itu agar tidak disinggahi debu-debu.

Malaikat itu..
Bekal terbaik dari Tuhan untuk saya sampai saat ini mungkin adalah keyakinan bahwa Tuhan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik. Keyakinan yang seringkali diguncang oleh keraguan. Karena terkadang cara Tuhan sulit untuk saya bisa pahami. Bagaimana saya bisa memenangkan permainan, jika saya belum mengenal sosok dibalik semua ini?. Cara-Nya yang beragam, tetapi selalu mengesankan, seperti biasanya. Saya mengarahkan pikiran untuk terus lurus tanpa harus menoleh kesisi, agar tidak tergoda disetiap persimpangan. Menoleh hanya sesekali, karena dalam berlari, apa yang ada didepan jauh lebih penting dibandingkan gemuruh suara yang mengiringi setiap detak kaki yang bergerak. Jika letih,- (bersambung)



4.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: malaikat itu..)

berjalanlah sesekali sambil menikmati apa yang Tuhan suguhkan disetiap perjalanan menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan. Sisi-sisi lain permainan yang akhirnya saya sadari bisa meneduhkan dikala keteguhan mulai teriris perlahan oleh tempaan proses. Layaknya oase di padang tandus Hindustan yang haus aliran Gangga tanpa batas. Aliran yang hanya berbatas pada rasa bosan dan sepi. Perjalanan yang mulai disadari penuh dengan tanggung jawab, membuat lelah. Melahirkan kembali rasa yang dulu pernah dibuang jauh, kini mencoba kembali ke dalam benak. Mengoyak kembali sendi-sendi hingga menjalar dalam nadi. Sulit untuk dihindari, tapi sangat mungkin untuk dipermainkan. Keraguan yang menjadi kesulitan terbesar dalam permainan ini, sejak awal bahkan. 
Permainan tanpa tantangan apalah artinya. Seperti karang yang didebur ombak di pantai yang menjulur indah ditepian, semakin banyak hal baru yang saya temui, disemakin panjang perjalanan, semakin kuat dan kokoh pula benteng yang Tuhan bangun, namun harus saya jaga sampai akhir. Tuhan selalu punya seribu cara membuat saya begitu terkesima dan namun sebanyak itu pula saya tersesat dalam tanya akan segala tingkah laku-Nya. Tuhan yang selalu penuh teka-teki. Kadang seperti anak kecil yang begitu ingin dimanja, ingin dituruti segala keinginan-Nya. Bermain bersama para malaikat dengan asyiknya menjadi hal yang sudah biasa. Begitu berbeda saat keseriusan menyentuh-Nya, Ia begitu dewasa, penuh kebijaksaan, berdiri tegak didepan setiap malaikat yang Ia pilih, saat semua perlahan melangkah mundur, memilih menjauh. Dia yang tidak pernah pergi. Dialah abu-abu yang paling berwarna. Membuat saya merasa begitu beruntung. Saya berharap Tuhan bersama saya sampai ujung permainan. Menunjukkan sisi-sisi Nya yang lain, yang belum pernah saya lihat.

Untuk menjalani permainan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan dan tidak terduga, Tuhan pasti sudah menyiapkan hal-hal terbaik untuk bisa bertahan dalam permainan. Karena yang datang dari-Nya adalah sempurna. Tuhan menitipkan malaikat-malaikat yang begitu kuat, terlatih untuk jatuh, dan begitu ramah untuk setiap keadaan tersulit yang menyapa. Salah satunya yang ikut berjuang bersama dengan langkah kaki yang saya jejakkan. Tanpanya, saya mungkin hanya seonggok tulang berlapis daging yang tipis. Dialah yang membuat saya hidup. Permainan ini hebat, maka Tuhan tidak akan mengutus malaikat-malaikat prototype untuk bermain. Semua harus dalam keadaan terbaiknya. Dalam permainan ini akan ada banyak tanjakan-tanjakan curam, jalan menurun yang berliku dan licin, yang harus mampu ditempuh, untuk saat-saat tersulit sekalipun: sendirian. Malaikat yang diciptakan untuk mampu bertahan dalam kondisi terinjak,tenggelam,terjatuh bahkan tersayat. Malaikat yang menjadi bagian terbaik dan terhebat dalam permainan ini sudah Tuhan siapkan. Malaikat-malaikat yang akan saling melengkapi dan membuat permainan ini menjadi semakin seru. Saya sebagai salah satu pemain menghadapi begitu banyak tantangan, beruntunglah saya disisipi salah satunya, dan saya yakin dia yang terhebat. Jiwa yang Tuhan kirim untuk menjaga saya dalam permainan ini, adalah yang tertangguh, yang terpilih dari milyaran. Malaikat itu dikenal dengan sebutan Fatih. Saya bisa merasakan kehadirannya, energi dan semangat seorang pejuang mengalir dalam aliran darah. Begitu membara. Saya akan membiarkannya seperti ini hingga permainan selesai. Apapun yang terjadi. Berjalan mundur bahkan menyerah tidak ada dalam daftar pilihan permainan ini. Jiwa itu harus tetap berjalan, bahkan berlari. Tak ada ruang untuk berhenti.



Kekalahan Pertama
Lembar kisah terus berlanjut dengan segala warna yang menghiasinya, lembaran demi lembaran baru tersusun rapi. Banyak cerita yang terlewati tertuang dalam setiap goresan. Saya menuliskan bagian saya dengan tebal dan jelas. Agar Tuhan dapat membacanya lebih lama. Agar Tuhan lebih mengenal fatih lebih jauh. Saya sediakan ruang yang juga luas untuk Tuhan menuliskan bagian nya dengan manis dengan teka-teki-Nya, agar saya juga bisa lebih akrab menyapa nya nanti. Agar lebih mengenal, agar lebih sayang. Tuhan memainkan perannya dengan bijak. Dialah yang maha bijak dari segala raja dalam permainan ini. Membuat saya bersemangat  untuk terus belajar lebih mengenal-Nya dan permainan ini. Dengan segala keterbatasan, saya akan lakukan yang terbaik. Saya sadar waktu tidak akan berhenti hanya karena saya tidak mau memulai. Kepingan ini terlalu banyak, terlalu luas. Namun bukan berarti tidak bisa disatukan. Saya hanya perlu memulainya. Kalau saya tidak memulai, kondisi yang akan menyeret saya tanpa ampun, dan saya tidak mau hal itu terjadi. Rumit tapi penuh dengan tantangan. Logika menyeret untuk tidak masuk lebih dalam, namun jauh didalam sana, ada pergolakan hebat. Pertarungan diteras ruang kosong. Saya harus tahu lebih banyak sebelum memindahkan kaki ke dahan yang lain. Dahan yang lebih tinggi agar sampai kepuncak. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk masuk. Logika itu tidak cukup kuat melawan perasaan terhadap Tuhan. Perasaan yang belum jelas apa bentuknya. Akan saya buat semenarik mungkin.  




Langit mulai mengganti lembarannya yang baru. Pagi memulai hari nya dengan cerah. Menandakan seakan semuanya akan berjalan baik, namun ternyata berjalan sebagaimana seharusnya. Hari ini tidak benar-benar tidak seperti apa yang saya rasakan saat ini. Melewati perjalanan yang cukup panjang dengan semua embel-embelnya yang terseret, berjalan walau tertatih hingga sampai dititik ini membuat saya ingin beristirahat lebih lama, menyandarkan punggung yang dibebani oleh ribuan kilo tanggungjawab. Saya ingin menikmati kesunyian yang dingin. Keadaan yang nyaman ini ingin saya lewati lebih lama. Semoga malaikat dalam diri bisa kembali seperti yang awal saya mengenalnya. ‘Ah nikmatnya!’ selasar kata yang ada dalam pikiran saya saat itu. Saya tidak mau ini berakhir. Bergeser kesana- kemari menyisir setiap sudut hingga hal-hal yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Menggoyangkan kaki sembari bersenandung, hingga akhirnya terhenti pada satu titik. Dinding-dinding kokoh nan tinggi, terlihat terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Letaknya di ujung ruangan tempat saya terbaring memainkan kaki ke atas dan kebawah menikmati hentakan busa yang tebal. Titik dimana perhatian saya tercuri beberapa saat. Tembok itu mengalungkan persegi daftar penunjuk sisa waktu dalam permainan di pundaknya, menunjukan angka yang telah berganti kelekukkan ke bentuk yang jauh lebih manis dan jam pasirpun terus mengalir. Teryata waktu terus berjalan tanpa saya sadari. Perlahan merubah semuanya. Sedangkan saya merasa semuanya belum ada yang berubah, masih seperti terakhir kali mata saya meninggalkan jejaknya. Hal ini sontak membuat saya bertanya-tanya dalam hati,’apakah ini bagian dalam permainan?’. Kata-kata tak- (bersambung)

5.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: kekalahan pertama)


pantas mulai bergumul dalam pikiran saya. Angka itu tak selugu bentuknya. Angka itu menyadarkan saya tentang apa yang telah saya lewatkan, tentang semua hal yang terjadi, tentang aturan permainan yang tidak mengijinkan saya untuk mundur. Saya mulai mengingat tentang adanya aturan itu. Inikah hal yang paling berharga dalam permainan?, tapi bagaimana mungkin. Itu bukanlah bagian dari saya. Ternyata saya lah yang menjadi bagian terkecil darinya, yang jika ia lenyap, maka saya hanya sejarah. Hal yang tidak bisa saya mohonkan terhadap Tuhan untuk dikembalikan. Hal tak kasat mata yang Tuhan ambil saat itu juga, setelah saya melaluinya. Hal yang memberi begitu banyak tanpa pernah meminta, ia datang kemudian pergi. Tanpa tegur sapa. ‘Ah, inikah kekalahan pertama saya?’ Ia merenggutnya tanpa kompormi. Semudah itu kah kekalahan dalam permainan ini didapat. Pagi ini tiba-tiba menjadi begitu gelap. Langit memang terliahat begitu biru, begitu cerah tapi jauh didalam sana, ada hitam yang bergumul karena kehilangan hal yang tidak akan pernah kembali. Kecewa karena merasa kalah. Bertarung tanpa tumpahan darah tapi lukanya begitu dalam. Mungkin itulah yang Tuhan tugaskan untuknya dalam permainan ini. Hal terduga ini, yang saya anggap hanya hal terkecil dalam sebuah permainan bisa membunuh saya dalam sekejap karena terkejut. Adakah hal-hal tak terduga lainnya yang Tuhan siapkan di dahan berikutnya?



Tropi Kosong 



Waktu mengajarkan tentang banyak hal. Tentang hal-hal yng tidak disadari sebelumnya, diungkapnya begitu keras, menampar sampai berbekas. Pelajaran-pelajaran yang nampak tidak hanya  didepan mata, tapi untuk melihatnya lebih dalam memerlukan energi pikiran yang lebih dahsyat. Cahaya yang lebih terang untuk menyinarinya. Saya dan malaikat dalam diri harus bekerja sama untuk menghadapi tantangan terbesar ini. Saya tak bisa mengalahkan nya sendirian. Semangat harus lebih besar. Seperti pondasi yang lebih besar menopang tiang yang menjulang ke atas Tak ada lagi kerunTuhan. Jangan lagi ada kekalahan. Kobaran semangat yang menyambar-nyambar untuk memulai menajdi bukti bahwa saya siap untuk menang. Saya akan buktikan kepada Tuhan bahwa saya dikirimkan untuk itu, untuk memenangkan permainan ini. Menuliskan sejarah saya dalam permainan dengan tidak ada lagi lilitan benang-benang kusut dalam lembaran. Malaikat dalam diri ikut bersiaga. Hari ini tidak akan lagi seperti kemarin atau lusa, hari ini harus lebih baik. Beruntunglah malaikat dalam diri merasakan semangat itu. Malaikat yang ada dalam diriku tidak pernah menyia-nyiakan setiap pelajaran yang ada. Ia melahap setiap potongan peristiwa dan situasi. Ia menjadi begitu rakus. Tak menyia-nyiakan lagi kesempatan. Ia belajar lebih dalam lagi mengenal aroma dan wangi-wangian disetiap potongnya. Pahit, asam, manisnya setiap potongan ia pelajari hingga ia mengerti. Ia memahami bahwa setiap lembar peristiwa itu memiliki rasa, rasa yang berbeda. Saya berpikir bahwa saat saya dan ia mengetahui banyak hal, akan lebih mudah menghadapi setiap tantangan. Melatihnya setiap waktu, hingga saat itu datang, kami tidak lagi terkejut, kami sudah siap. Permainan ini penuh tanda tanya, menurut saya itulah cara terbaik mengetahui setiap bagian yang ada, meski harus tercekik rasa pahit sekalipun. Karena kami sadar perjalanan itu masih panjang, setiap detik, setiap jengkal, harus ia pahami, agar tidak ada lagi penyesalan. Situasi permainan terus berubah. Waktu silih berganti datang dan pergi. ‘Saya tak boleh kalah lagi’ ucap malaikat dengan tidak pernah bosannya menyemangati diri. Meskipun banyak kekalahan yang telah saya dapat diawal, saya pastikan bahwa saya akan memenangkan permainan ini, dengan manis. Saya akan mengangkat dagu  diakhir permainan. Menyunggingkan senyuman sambil melambaikan tangan. Ya, permainan ini menjadi semakin seru. Akan ada lebih banyak kemenangan yang tercatat dalam sejarah. Kemenangan yang terlihat kosong tapi sangat berkesan. Pemenang tanpa pecundang. Yang ada hanya ego yang dikuasai. Ego yang berhasil dikendalikan. (bersambung)

6.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: tropi kosong)


Namun sesungguhnya tidak ada kemenangan yang kosong, meskipun tanpa tropi megah menyimbolkan. Kemenangan dalam logika yang hanya berbatas bentuk, sedang kemenangan harusnya tak memiliki batas. Menang selama anda bisa merasakannya dalam diri. Langkah pertama untuk melawan ego-ego lain dalam malaikat-malaikat pemain lain. Akan lebih mudah menghadapi pemain-pemain lain, menghadapi kejutan-kejutan dari Tuhan, saat saya telah siap dengan diri saya, saat saya menang melawan ego dalam diri. Mengendalikan ego yang selama ini mengekang malaikat untuk bergerak. Selama saya mampu dengan usaha yang saya lakukan melawan bercak didinding ruang kosong, disitulah saya merasa menang, dan harus terus seperti itu. Kemenangan pertama yang menjadi pengobar, penyulut semangat  untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Cahaya yang semakin terang 
Jiwa-jiwa itu menjadi murung, entah hal apa yang ia telah lalui, entah sejauh mana benangnya menjulur, entah serumit apa keterikatan benang yang akhirnya terbentuk, tapi berhasil membuat sebuah cahaya perlahan meredup. Warna itu memudar. Perlahan tak lagi menampakan bentuknya. Jiwa itu memanggil tanpa suara. Tak terdengar tapi begitu terasa menarik diri agar lebih mendekat dan lebih dekat. Jari-jari Tuhan menghubungkan kita. Lagi-lagi tuhan menunjukan sisi-sisi-Nya yang lain. Memunculkan perasaan yang pernah saya rasakan sebelumnya, namun getarannya berbeda. Sebelumnya tidak sehebat ini. Entahlah, saya masih harus banyak belajar akan memahami ini. Terlalu banyak mengapa dipikiran saya, dan saya perlu memilihnya satu-persatu untuk dilepaskan. Mengurai benang yang kusut dalam pikiran terlebih dahulu. Ruang ini terlalu gelap. Butuh cahaya walau hanya setitik unutk memecah balutan hitam. Permainan ini semakin dalam menguras energi saya. Tak hanya memaksa untuk terus melangkahkan kaki agar tetap seimbang, tapi juga mengharapkan saya dan sang malaikat menyumbangkan pemikiran untuk segala hal yang ada dipermainan. Ya, permainan memang seperti itu, kita memerlukan strategi khusus untuk tetap melaju, untuk tetap bertahan, untuk tetap bisa bermain, agar tahu arah permainan, agar tidak dipermainkan. Mungkin saya terlalu menikmati ayunan jari Tuhan hingga akhirnya melayang ke sisi terlarang, atau dia yang tidak bisa mengikuti alunan ritme jari Tuhan, karena dia belum terbiasa. Mungkin dia pemain baru seperti saya beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin ini memang maunya Tuhan. Mengenalkanku kepada malaikat lain yang juga ada disekeliling, tapi saya tidak begitu menyadarinya. Lain kali mungkin saya harus lebih mau peduli untuk lebih tahu. Lebih mau tahu untuk lebih mengenal. Saya tidak memperdulikannya hingga akhirnya terbentur. Benturan ini cukup hebat untuk akhirnya bisa menyadarkan kedua pemain bahwa ada hal yang sedang dan akan mereka hadapi. Benturan yang akhirnya menguhubungkan saya dan dia, menghubungkan benang kita. Meskipun sudah menjadi hal biasa untuk saya menemui hentakan-hentakan semacam ini. Namun setiap perubahan yang saya alami memiliki kesan yang berbeda, itulah yang saya rasakan. Saya takut getaran ini memutus benang harapan untuk terus bercahaya dalam permainan, karena ada saat-saat dimana malaikat kehilangan cahayanya yang tertutup kabut, yang ragu tanpa tiang Tuhan, akhirnya terputus dikikis- (bersambung)

7.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


ketidakpedulian. Seperti pagi yang membutuhkan hembusan angin sejuk agar hari dapat memulaikan langkahnya menghidupi ribuan malaikat. Keadaan-keadaan yang terus berubah, mengikuti alur-Nya. Saya tidak bisa memilih situasi seperti apa yang akan saya hadapi, memilih untuk pasrah kemudian terbenam dan mati, atau bertahan dan mencari jalan keluar disetiap keadaan. Menyelesaikannya hingga akhir. Akhir permainan yang sebenarnya.

Getaran ini semakin lama semakin kuat, semakin cepat. Makin lama makin menghawatirkan. Jika saya tidak bisa mengontrolnya, benang saya akan terputus. Mungkin miliknya juga akan terputus. Akan ada malaikat yang redup cahayanya secara perlahan dan mati untuk selamanya. Permainannya selesai sampai disini. Harus ada perjuangan untuk bisa bertahan. Saya harus bertahan. Saya yakin malaikat saya mampu. Tapi dia mungkinkah mampu bertahan?  Mungkinkah dia bisa menahannya lebih lama? Ia tidak terlihat demikian. Ia butuh dorongan. Sokongan cahaya yang lebih kuat. Saya memutuskan untuk melilitkan benang yang menopang agar lebih kuat mengikat. Saya berharap bisa saling menguatkan. Meningkatkan energi cahaya agar ia yang hampir jatuh menuju dasar yang gelap, bisa lebih terlihat. Menyelamatkan cahaya dan waktu. Saya mengambil resiko terberat dalam permainan: menuju dasar yang gelap kemudian mati. Saya mengerahkan seluruh energi untuk malaikat yang saya sendiri belum mengenalnya dengan jelas. Tapi saya berpikir bahwa ini tentang saya dan ujian yang sedang saya jalani. Tentang bagaimana saya menuliskan semua jawaban yang terlampir dipikiran dalam secarik lembar. Namun dia, entah bagaimana ia menyelesaikan ujiannya saat ini, itu urusannya dengan Tuhan. Itu diluar kendaliku.

Cahaya itu semakin terang. Sudut-sudut yang tadinya gelap tanpa lekuk. Sunyi dalam kediamannya. Saat ini mulai terlihat bergoyang mengikuti alunan cahaya yang menghujaninya. Cahaya yang entah sampai kapan bertahan. Lorong ini terlalu luas untuk diterangi seluruhnya. Butuh dihujani cahaya yang lebih besar untuk bisa terlepas dan naik ke atas. Cahaya untuk menerbangkan 2 malaikat tak bersayap. Saya butuh sumber cahaya tambahan agar kami bisa bertahan lebih lama. Kami saling menatap. Mencoba berkomunikasi dalam kebisuan. Cahaya ini cukup menyinari wajahnya yang nampak suci. Wajah penuh kebingungan dan aliran air ketakutan, yang menghamba untuk sebuah harapan baru. Rupa yang mampu menimbulkan perasaan itu. Perasaan yang menjadi sumber cahaya dalam diri. Perasaan yang lama-kelamaan menguat. Cahaya itu menyusuri lebih luas, lebih dalam. Ia berhasil menyulut energi-energi baru. Energi yang belum saya rasakan darinya, yang ia belum bersedia membaginya, bahkan disaat-saat seperti ini. Saya harus menyulut energinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya bercahaya. Tapi apa dan bagaimana memulainya. Masihkah ada waktu untuk saya berfikir disaat-saat seperti ini?. Hal ini menjadi semakin rumit. Cahaya ini memang semakin luas menyinari tapi entah sampai kapan akan bertahan, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu hanya satu hal  bahwa benang ini semakin melepaskan ikatanya, semakin merenggang. Sentuhan lembut akan membuatnya terputus. Kami butuh keajaiban. Cahaya keajaiban yang harus muncul sebelum benang-benang ini  benar-benar mengakhiri semuanya.
Cahayanya meredup. Benang ini semakin menjulur, semakin merenggang. Dia yang selama ini saya pertahankan akhirnya meredup perlahan. ‘Hei, bertahanlah! Bertahan sedikit lagi’ bisik yang- (bersambung)