Minggu, 01 April 2018

2.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: Ikhlas)

 sebagai keluarga. Sebagai pemain baru, saya rasa Tuhan cukup adil memilihkan jalan ini untuk saya, perjalanan yang saya bahkan tidak tahu akan menjadi perjalanan seperti apa nanti, akankah mudah atau memerlukan keringat berlebih untuk dijalani, tapi yang pasti untuk bisa menang, saya harus tahu permainan yang sedang  saya mainkan, dan saya hanya punya pilihan untuk maju, maju atau menjadi sebuah masa lalu yang hanya bisa diingat.
Semoga Tuhan memberiku alasan terbaik menempatkan saya disisi mereka. Waktu yang berjalan begitu anggun, masa-masa yang baru ini, alunan irama hidup ini begitu saya nikmati. Saya berharap selamanya seperti ini, tidak ada yang berubah sedikitpun, tetap mengalir tenang, bak air dalam telaga yang jernih dengan segala arahnya bergerak, mengalun menyusuri setiap sisi yang dilaluinya. Kenikmatan yang selalu membuai hingga titik yang tidak seharusnya saya bertepi. Yang membuat saya lupa bahwa ada hal yang harus saya selesaikan. Ada perjalanan yang harus saya tempuh. Saya harus bergerak.
Perjalanan yang sudah dilalui begitu mengajarkan banyak hal, namun tetap saja permainan ini belum begitu saya pahami sepenuhnya. Saya masih harus terus belajar dan belajar sampai saya tahu, sampai saya mengerti setiap sudutnya, dan menuliskan akhir seperti apa yang akan saya mau. Permainan ini penuh dengan inkonsistensi situasi, namun kadang berulang membuat saya belajar akan banyak hal. Mengajarkan saya untuk harus belajar berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri, menyisipkan Tuhan untuk semua langkah yang akan saya jalani. Perubahan yang membimbing untuk berjalan diatas kaki sendiri, kaki yang dengan sempurna nya Tuhan ciptakan, kesungguhan Tuhan yang kurasakan begitu hebatnya dalam diri, hingga akhirnya saya sadar, bahwa Tuhan  menitipkan malaikat yang begitu indah dan kuat dalam diri setiap ciptaan-Nya. Malaikat yang setia menemani di setiap keadaan yang menempa. Melekat seperti keluarga tapi jauh lebih dalam, lebih terikat. Malaikat dalam diri ini lah yang menjadi kejutan berikutnya setelah keluarga. Saya ingin mengenalnya lebih jauh. Setelah apa yang saya lalui, saya tidak ingin membuatnya lemah, saya akan melatihnya, harus lebih kuat. Entah ini bagian dari permainan Tuhan atau bukan, tapi ini jalan berikutnya yang akan saya pilih.
Saya percaya Tuhan sudah memilih ribuan pemain dijemari nya untuk diperhatikan. Kuharap Tuhan tahu apa yang sedang Ia mainkan, saya percaya Ia hebat, keyakinan saya penuh akan kuasa-Nya, harapku juga besar mengisi ribuan harapan sang pemain yang sedang bertarung. Saya terpilih, dan saya tidak bisa mundur, keadaan memaksa saya untuk terus maju, melangkah walau hanya 1 inci ke depan. Sudah menjadi sifat dasar malaikat-malaikat seperti saya ini untuk mau tahu, meski kadang tak mau peduli. Semua saya lalui, perlahan saya belajar memahami kepingan demi kepingan yang terurai dipikiran, terlilit dalam ketidaktahuan, meski kadang keraguan masih terus membayangi atas apa yang saya jalani. Keraguan atas takdir ini. Takdir yang membawa saya menjalani hal-hal yang belum saya temui, rasakan dan pikirkan sebelumnya. Terkadang saya memilih untuk merangkak, agar tidak terjatuh terlalu dalam. Menjalani kehidupan setiap harinya dengan baik, rapi dan teratur, mengikuti pola yang sudah terbentuk. Hidup yang saya sendiri tidak memilih untuk menjalaninya, dan perlahan waktu membuatnya terbiasa untuk dijalani.


Ruang kosong
Perjalanan ini memulai babak barunya. Hari demi hari berganti menjadi tahun hingga akhirnya saya tercebur dalam pengulangan situasi. Saya senang karena setiap hal berjalan dengan begitu baiknya. Saya merasa Tuhan menggerakan jarinya dengan ramah, tanpa mengoyak tali disisi jari yang lain, tapi saya merasa ada aneh, karena sesungguhnya saya tidak pernah mau-(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar