saya lemparkan
kepadanya tanpa jawaban. Hanya tundukan kepala yang terlihat. Saya menariknya
perlahan untuk lebih dekat. Selembut mungkin agar gesekan itu tidak membahayakan.
Saya mengerahkan semuanya. Menariknya terus hingga lebih dekat. Saya lupakan
aliran darah yang membasahi tangan. Saya lupakan semuanya. Hanya dia titik yang
harus saya perhatikan. Hanya dia yang
ada dikepala saya saat ini. Dialah satu-satunya yang terlihat. Peluh dan tangis
itu telah bercampur. Mengalir hingga tak terlihat lagi.
Hal aneh mulai
terjadi. Ada energi muncul. Energi yang tiba-tiba berkobar dalam diri saya. Energi
yang membuat saya lebih bercahaya. Membuat wajah itu mulai menunjukan
bentuknya. Wajah yang tadi disembunyikan oleh gelapnya permainan. Kini saya melihatnya.
Wajah malaikat yang sedang saya perjuangkan. Akhirnya saya melihat wajah itu.
Terlihat payah. Wajah itu ingin mengatakan sesuatu. Terlalu kaku lidah untuk
menari. Terlalu sesak nafas. Air itu mengalir lebih deras. Dekapan itu akhirnya
bisa saya berikan. ‘Bangunlah!, Bangun! Kita harus bertahan!’ teriaku dalam
gelap kepiluan. Ini terlalu menyakitkan. Tuhan, tidak kah Kau merasa saya
terlalu dini untuk merasakan ini semua? Apa yang sedang Kau pikirkan?. Saya
menangis sejadinya. Berteriak hingga tak tahu lagi untuk apa saya berteriak.
Mendekap hingga air mata itu berurai tak terarah. Pejaman mata yang begitu
damai ini membuat segalanya sulit untuk diterima. Saya sangat ingin melihatnya
kembali. Saya ingin ia bertahan. Tak lelah pesan ini saya sampaikan padanya.
Saya berharap ia tahu. Berharap ia menerima pesan terkahir yang ingin saya
sampaikan.
Diri ini
semakin lemas dibuatnya, namun tidak dengan cahaya ini. Cahaya yang perlahan
semakin meluas. Menyinari seluruh tubuh ini. Saya tidak tahu lagi harus berbuat
apa. Saya merasa buntu. Inikah akhir dari bagian ini? Saya merasa ini sangat
berat untuk dilalui. Saya tak tahu pasti. Saya merasa ini sudah berakhir.
Terlalu berat untuk dirasakan. Mulut ini terbungkam. Wajah ini bak setengah
mati, tapi bayangan itu malah semakin meluas menyinari. Mana keajaiban itu.
Keajaiban yang selama ini saya harapkan. Dimana Tuhan?. Mengapa Tuhan tidak
muncul di saat-saat seperti ini. Masihkah berarti jika muncul disaat yang
seharusnya semua sudah selesai, karena tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan.
Tidak ada lagi malaikat itu. Benak ini sudah kusut. Cahaya yang bersinar terang
ini hanya menunjukan kemuraman dan kemarahan saya akan semua ini.
Terlalu besar kekecewaan ini. Saya bahkan sudah
terlalu lelah untuk mencari tahu sebesar apa. Tapi yang pasti sangat besar.
Sangat membekas. Kepedihan yang disinari cahaya. Cahaya yang kini sinarnya
mulai terbelah. Menunjukan lekuk-lekuk yang mulai berbayang, mulai
bergoyang-goyang. Saya sudah tidak peduli dengan hal-hal itu. Pikiran ini masih
menyesalkan keadaan yang terjadi. Tapi cahaya ini. Semakin lama semakin kuat.
Saya bisa merasakan energinya. Tapi energi ini bukan dari dalam diri saya. Ini
cahaya lain. Tapi dari mana? Inikah cahaya Tuhan? Semakin luas. Semakin nyata.
Semakin mendekat. Wajah yang begitu lirih tadi, kini tersenyum, terangnya
melebihi apa yang saya bagikan. ‘Dia kembali? Benarkah? Bagaimana bisa?’ terlalu
banyak tanya dalam benak. Hal ini membuat saya terkejut. Apakah ia benar-benar
kembali?. Mungkinkah ia merasakan perasaan itu?. Saya harap ini bukan proyeksi
pikiran saya karena perasaan kehilangan yang begitu besar. Dia mendekat tepat
dihadapanku. Ini nyata. Dia kembali. Dia terlihat berbeda. Terlihat jauh lebih
baik. Perasaan itu benar-benar menghinggapinya. Sunggingan senyumnya bahkan
lebih bercahaya dari apa yang ia sebarkan. Mungkinkah dia juga merasakan apa
yang sedang saya rasakan. Perjuangan itu benarkah dia rasakan?. Jika melihat
dari keajaiban ini. Keajaiban yang begitu ditunggu akhirnya muncul. Sepertinya
ia merasakan hal yang sama. Ia merasakan energi terakhir yang saya sampaikan.
Energi kepedihan saat -(berambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar