(lanjutan: Ruang Kosong)
memulai ini. Saya
bahagia, saya akui permainan ini menyenangkan, bahagia untuk hal yang saya sendiri tidak tahu dari mana dan
apa yang membuatnya begitu hebat dan begitu melekat, bahkan hingga saat ini.
Hingga pada suatu titik saya bertanya pada diri saya sendiri ‘apa yang saya
inginkan?’, ‘apa yang saya cari selama ini?’, ‘apa yang harus saya lakukan?’.
Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak, tapi belum ada
jawaban pasti yang mampu menghentikan. Mengapa Tuhan menenggelamkan saya begitu
dalam, dengan cara yang begitu lembut. Tuhan memberi saya hidup dan merasakan
kebebasan, tapi dengan lembutnya saya dituntun ke tempat yang bahkan saya
sendiri tidak tahu ini apa. Terikat oleh tali yang saya rajut sendiri. Saya merasa
tersesat, tapi dijalan yang begitu lurus, rapi dan nyaman. ‘Saya diciptakan
dengan baik, dengan kesungguhan oleh Tuhan, saya sempurna, tak kurang suatu
apapun’, itulah sebait kata yang selalu ada dalam benak untuk menunjukan rasa
syukur yang bisa terus saya ingat saat saya terperosok keraguan dalam menjalani
hidup, dan memilih bertahan untuk tetap percaya bahwa tidak ada manusia yang
benar-benar sempurna, selalu ada kekosongan, entah itu secara kasat mata atau
bahkan yang hanya bisa disentuh oleh mata jiwa. Kekosongan yang hanya bisa isi
oleh rasa ikhlas atau oleh Tuhan. Tempat yang selalu kosong yang hanya memiliki
2 penghuni.
Manusia memang sempurna, sempurna dalam
ketidaksempurnaannya, mungkin itulah alasan Tuhan mengajarkanku untuk terus
belajar memahami hidup. Itu juga yang sering saya dengar dalam perjalanan. Seperti
botol kosong yang berdiri tegak, selalu butuh seseorang untuk mengaliri diri
ini dengan kesempatan-kesempatan, oleh mereka yang juga memiliki awal, yang
memiliki seribu tanya, yang akan selalu ada mengapa
dalam setiap lembar kisahnya. Untuk saling melengkapi. Tuhan perlahan
mendewasakanku, dan hebatnya, Tuhan melakukannya tanpa bertatap muka. Tuhan
begitu mampu membuat saya berpikir akan hal-hal yang awalnya saya kira hanya
akan didapat dari mereka yang berjuang bersama saya, dari keluarga, dari malaikat-malaikat
yang mengikatku dengan erat meski tanpa tali. Keyakinanku semakin bertambah, tali
itu bahkan semakin kuat. Tuhan telah mengajarkanku dalam kemisteriusannya. Ia
ternyata telah mengetuk pintu itu. Pintu diruangan kosong. Menitipkan pesan bahwa
berfokus pada mengapa dan tidak dari-Nya hanya akan membuat saya
berjalan mundur, menjauh dan tersesat dari ya
yang Tuhan janjikan. Karena terkadang tidak semua mengapa memiliki jawaban. Terus mengajukan pertanyaan hanya akan
membuat saya diliputi lelah yang tak berkesudahan, namun bagaimanapun jawaban
untuk setiap pertanyaan memang harus ditemukan. Saya hanya harus menjalani
setiap detik kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, karena mungkin itulah
cara teraman dalam permainan ini. Entah dalam perjalanan nanti saya bertemu
kerikil, tertusuk duri, tersesat, terseret ombak, terhantam angin yang membuai
nyaman. Saya biarkan Tuhan memainkan perannya, Tuhan tidak sekejam itu
membiarkan saya yang Ia ciptakan dengan kesungguhan, dipilih dari milyaran yang
lain dan bertahan sejauh ini, berhenti hanya karena hal yang konyol, kalaupun saya
pada akhirnya harus berhenti dari permainan ini, alasan itu harus hebat, batu
yang menindih harus lebih besar dari kuasa Tuhan yang menciptakan. Malaikat
dalam diri harus bertarung hingga titik terakhir. Karena saya yakin malaikat
yang Tuhan titipkan menjaga ruang kosong ini dengan baik, dengan hebat, karena pada dasarnya tidak
ada hal yang tidak hebat dari Tuhan. Saya hanya perlu menerimanya, mengenalnya,
memahaminya, mendalami, melatih dan mensyukurinya, karena malaikat itu terus
bersama saya, ia ada karena saya ada. Selalu ada alasan atas segala yang Tuhan
tetapkan. Belajar dan pahami. Saya hanya perlu menyenangkan Tuhan. Sampai
waktunya Tuhan datang kembali, malaikat harus menjaga ruang kosong itu agar
tidak disinggahi debu-debu.
Malaikat
itu..
Bekal terbaik dari Tuhan untuk saya sampai saat
ini mungkin adalah keyakinan bahwa Tuhan selalu melakukan dan memberikan yang
terbaik. Keyakinan yang seringkali diguncang oleh keraguan. Karena terkadang
cara Tuhan sulit untuk saya bisa pahami. Bagaimana saya bisa memenangkan
permainan, jika saya belum mengenal sosok dibalik semua ini?. Cara-Nya yang beragam,
tetapi selalu mengesankan, seperti biasanya. Saya mengarahkan pikiran untuk
terus lurus tanpa harus menoleh kesisi, agar tidak tergoda disetiap
persimpangan. Menoleh hanya sesekali, karena dalam berlari, apa yang ada
didepan jauh lebih penting dibandingkan gemuruh suara yang mengiringi setiap
detak kaki yang bergerak. Jika letih,- (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar