Minggu, 01 April 2018

3.God's Gift: Sang Pemain


(lanjutan: Ruang Kosong)

memulai ini. Saya bahagia, saya akui permainan ini menyenangkan, bahagia untuk hal yang saya sendiri tidak tahu dari mana dan apa yang membuatnya begitu hebat dan begitu melekat, bahkan hingga saat ini. Hingga pada suatu titik saya bertanya pada diri saya sendiri ‘apa yang saya inginkan?’, ‘apa yang saya cari selama ini?’, ‘apa yang harus saya lakukan?’. Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak, tapi belum ada jawaban pasti yang mampu menghentikan. Mengapa Tuhan menenggelamkan saya begitu dalam, dengan cara yang begitu lembut. Tuhan memberi saya hidup dan merasakan kebebasan, tapi dengan lembutnya saya dituntun ke tempat yang bahkan saya sendiri tidak tahu ini apa. Terikat oleh tali yang saya rajut sendiri. Saya merasa tersesat, tapi dijalan yang begitu lurus, rapi dan nyaman. ‘Saya diciptakan dengan baik, dengan kesungguhan oleh Tuhan, saya sempurna, tak kurang suatu apapun’, itulah sebait kata yang selalu ada dalam benak untuk menunjukan rasa syukur yang bisa terus saya ingat saat saya terperosok keraguan dalam menjalani hidup, dan memilih bertahan untuk tetap percaya bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, selalu ada kekosongan, entah itu secara kasat mata atau bahkan yang hanya bisa disentuh oleh mata jiwa. Kekosongan yang hanya bisa isi oleh rasa ikhlas atau oleh Tuhan. Tempat yang selalu kosong yang hanya memiliki 2 penghuni. 
Manusia memang sempurna, sempurna dalam ketidaksempurnaannya, mungkin itulah alasan Tuhan mengajarkanku untuk terus belajar memahami hidup. Itu juga yang sering saya dengar dalam perjalanan. Seperti botol kosong yang berdiri tegak, selalu butuh seseorang untuk mengaliri diri ini dengan kesempatan-kesempatan, oleh mereka yang juga memiliki awal, yang memiliki seribu tanya, yang akan selalu ada mengapa dalam setiap lembar kisahnya. Untuk saling melengkapi. Tuhan perlahan mendewasakanku, dan hebatnya, Tuhan melakukannya tanpa bertatap muka. Tuhan begitu mampu membuat saya berpikir akan hal-hal yang awalnya saya kira hanya akan didapat dari mereka yang berjuang bersama saya, dari keluarga, dari malaikat-malaikat yang mengikatku dengan erat meski tanpa tali. Keyakinanku semakin bertambah, tali itu bahkan semakin kuat. Tuhan telah mengajarkanku dalam kemisteriusannya. Ia ternyata telah mengetuk pintu itu. Pintu diruangan kosong. Menitipkan pesan bahwa berfokus pada mengapa dan tidak dari-Nya hanya akan membuat saya berjalan mundur, menjauh dan tersesat dari ya yang Tuhan janjikan. Karena terkadang tidak semua mengapa memiliki jawaban. Terus mengajukan pertanyaan hanya akan membuat saya diliputi lelah yang tak berkesudahan, namun bagaimanapun jawaban untuk setiap pertanyaan memang harus ditemukan. Saya hanya harus menjalani setiap detik kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, karena mungkin itulah cara teraman dalam permainan ini. Entah dalam perjalanan nanti saya bertemu kerikil, tertusuk duri, tersesat, terseret ombak, terhantam angin yang membuai nyaman. Saya biarkan Tuhan memainkan perannya, Tuhan tidak sekejam itu membiarkan saya yang Ia ciptakan dengan kesungguhan, dipilih dari milyaran yang lain dan bertahan sejauh ini, berhenti hanya karena hal yang konyol, kalaupun saya pada akhirnya harus berhenti dari permainan ini, alasan itu harus hebat, batu yang menindih harus lebih besar dari kuasa Tuhan yang menciptakan. Malaikat dalam diri harus bertarung hingga titik terakhir. Karena saya yakin malaikat yang Tuhan titipkan menjaga ruang kosong ini dengan baik, dengan hebat, karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak hebat dari Tuhan. Saya hanya perlu menerimanya, mengenalnya, memahaminya, mendalami, melatih dan mensyukurinya, karena malaikat itu terus bersama saya, ia ada karena saya ada. Selalu ada alasan atas segala yang Tuhan tetapkan. Belajar dan pahami. Saya hanya perlu menyenangkan Tuhan. Sampai waktunya Tuhan datang kembali, malaikat harus menjaga ruang kosong itu agar tidak disinggahi debu-debu.

Malaikat itu..
Bekal terbaik dari Tuhan untuk saya sampai saat ini mungkin adalah keyakinan bahwa Tuhan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik. Keyakinan yang seringkali diguncang oleh keraguan. Karena terkadang cara Tuhan sulit untuk saya bisa pahami. Bagaimana saya bisa memenangkan permainan, jika saya belum mengenal sosok dibalik semua ini?. Cara-Nya yang beragam, tetapi selalu mengesankan, seperti biasanya. Saya mengarahkan pikiran untuk terus lurus tanpa harus menoleh kesisi, agar tidak tergoda disetiap persimpangan. Menoleh hanya sesekali, karena dalam berlari, apa yang ada didepan jauh lebih penting dibandingkan gemuruh suara yang mengiringi setiap detak kaki yang bergerak. Jika letih,- (bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar