Minggu, 01 April 2018

4.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: malaikat itu..)

berjalanlah sesekali sambil menikmati apa yang Tuhan suguhkan disetiap perjalanan menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan. Sisi-sisi lain permainan yang akhirnya saya sadari bisa meneduhkan dikala keteguhan mulai teriris perlahan oleh tempaan proses. Layaknya oase di padang tandus Hindustan yang haus aliran Gangga tanpa batas. Aliran yang hanya berbatas pada rasa bosan dan sepi. Perjalanan yang mulai disadari penuh dengan tanggung jawab, membuat lelah. Melahirkan kembali rasa yang dulu pernah dibuang jauh, kini mencoba kembali ke dalam benak. Mengoyak kembali sendi-sendi hingga menjalar dalam nadi. Sulit untuk dihindari, tapi sangat mungkin untuk dipermainkan. Keraguan yang menjadi kesulitan terbesar dalam permainan ini, sejak awal bahkan. 
Permainan tanpa tantangan apalah artinya. Seperti karang yang didebur ombak di pantai yang menjulur indah ditepian, semakin banyak hal baru yang saya temui, disemakin panjang perjalanan, semakin kuat dan kokoh pula benteng yang Tuhan bangun, namun harus saya jaga sampai akhir. Tuhan selalu punya seribu cara membuat saya begitu terkesima dan namun sebanyak itu pula saya tersesat dalam tanya akan segala tingkah laku-Nya. Tuhan yang selalu penuh teka-teki. Kadang seperti anak kecil yang begitu ingin dimanja, ingin dituruti segala keinginan-Nya. Bermain bersama para malaikat dengan asyiknya menjadi hal yang sudah biasa. Begitu berbeda saat keseriusan menyentuh-Nya, Ia begitu dewasa, penuh kebijaksaan, berdiri tegak didepan setiap malaikat yang Ia pilih, saat semua perlahan melangkah mundur, memilih menjauh. Dia yang tidak pernah pergi. Dialah abu-abu yang paling berwarna. Membuat saya merasa begitu beruntung. Saya berharap Tuhan bersama saya sampai ujung permainan. Menunjukkan sisi-sisi Nya yang lain, yang belum pernah saya lihat.

Untuk menjalani permainan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan dan tidak terduga, Tuhan pasti sudah menyiapkan hal-hal terbaik untuk bisa bertahan dalam permainan. Karena yang datang dari-Nya adalah sempurna. Tuhan menitipkan malaikat-malaikat yang begitu kuat, terlatih untuk jatuh, dan begitu ramah untuk setiap keadaan tersulit yang menyapa. Salah satunya yang ikut berjuang bersama dengan langkah kaki yang saya jejakkan. Tanpanya, saya mungkin hanya seonggok tulang berlapis daging yang tipis. Dialah yang membuat saya hidup. Permainan ini hebat, maka Tuhan tidak akan mengutus malaikat-malaikat prototype untuk bermain. Semua harus dalam keadaan terbaiknya. Dalam permainan ini akan ada banyak tanjakan-tanjakan curam, jalan menurun yang berliku dan licin, yang harus mampu ditempuh, untuk saat-saat tersulit sekalipun: sendirian. Malaikat yang diciptakan untuk mampu bertahan dalam kondisi terinjak,tenggelam,terjatuh bahkan tersayat. Malaikat yang menjadi bagian terbaik dan terhebat dalam permainan ini sudah Tuhan siapkan. Malaikat-malaikat yang akan saling melengkapi dan membuat permainan ini menjadi semakin seru. Saya sebagai salah satu pemain menghadapi begitu banyak tantangan, beruntunglah saya disisipi salah satunya, dan saya yakin dia yang terhebat. Jiwa yang Tuhan kirim untuk menjaga saya dalam permainan ini, adalah yang tertangguh, yang terpilih dari milyaran. Malaikat itu dikenal dengan sebutan Fatih. Saya bisa merasakan kehadirannya, energi dan semangat seorang pejuang mengalir dalam aliran darah. Begitu membara. Saya akan membiarkannya seperti ini hingga permainan selesai. Apapun yang terjadi. Berjalan mundur bahkan menyerah tidak ada dalam daftar pilihan permainan ini. Jiwa itu harus tetap berjalan, bahkan berlari. Tak ada ruang untuk berhenti.



Kekalahan Pertama
Lembar kisah terus berlanjut dengan segala warna yang menghiasinya, lembaran demi lembaran baru tersusun rapi. Banyak cerita yang terlewati tertuang dalam setiap goresan. Saya menuliskan bagian saya dengan tebal dan jelas. Agar Tuhan dapat membacanya lebih lama. Agar Tuhan lebih mengenal fatih lebih jauh. Saya sediakan ruang yang juga luas untuk Tuhan menuliskan bagian nya dengan manis dengan teka-teki-Nya, agar saya juga bisa lebih akrab menyapa nya nanti. Agar lebih mengenal, agar lebih sayang. Tuhan memainkan perannya dengan bijak. Dialah yang maha bijak dari segala raja dalam permainan ini. Membuat saya bersemangat  untuk terus belajar lebih mengenal-Nya dan permainan ini. Dengan segala keterbatasan, saya akan lakukan yang terbaik. Saya sadar waktu tidak akan berhenti hanya karena saya tidak mau memulai. Kepingan ini terlalu banyak, terlalu luas. Namun bukan berarti tidak bisa disatukan. Saya hanya perlu memulainya. Kalau saya tidak memulai, kondisi yang akan menyeret saya tanpa ampun, dan saya tidak mau hal itu terjadi. Rumit tapi penuh dengan tantangan. Logika menyeret untuk tidak masuk lebih dalam, namun jauh didalam sana, ada pergolakan hebat. Pertarungan diteras ruang kosong. Saya harus tahu lebih banyak sebelum memindahkan kaki ke dahan yang lain. Dahan yang lebih tinggi agar sampai kepuncak. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk masuk. Logika itu tidak cukup kuat melawan perasaan terhadap Tuhan. Perasaan yang belum jelas apa bentuknya. Akan saya buat semenarik mungkin.  




Langit mulai mengganti lembarannya yang baru. Pagi memulai hari nya dengan cerah. Menandakan seakan semuanya akan berjalan baik, namun ternyata berjalan sebagaimana seharusnya. Hari ini tidak benar-benar tidak seperti apa yang saya rasakan saat ini. Melewati perjalanan yang cukup panjang dengan semua embel-embelnya yang terseret, berjalan walau tertatih hingga sampai dititik ini membuat saya ingin beristirahat lebih lama, menyandarkan punggung yang dibebani oleh ribuan kilo tanggungjawab. Saya ingin menikmati kesunyian yang dingin. Keadaan yang nyaman ini ingin saya lewati lebih lama. Semoga malaikat dalam diri bisa kembali seperti yang awal saya mengenalnya. ‘Ah nikmatnya!’ selasar kata yang ada dalam pikiran saya saat itu. Saya tidak mau ini berakhir. Bergeser kesana- kemari menyisir setiap sudut hingga hal-hal yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Menggoyangkan kaki sembari bersenandung, hingga akhirnya terhenti pada satu titik. Dinding-dinding kokoh nan tinggi, terlihat terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Letaknya di ujung ruangan tempat saya terbaring memainkan kaki ke atas dan kebawah menikmati hentakan busa yang tebal. Titik dimana perhatian saya tercuri beberapa saat. Tembok itu mengalungkan persegi daftar penunjuk sisa waktu dalam permainan di pundaknya, menunjukan angka yang telah berganti kelekukkan ke bentuk yang jauh lebih manis dan jam pasirpun terus mengalir. Teryata waktu terus berjalan tanpa saya sadari. Perlahan merubah semuanya. Sedangkan saya merasa semuanya belum ada yang berubah, masih seperti terakhir kali mata saya meninggalkan jejaknya. Hal ini sontak membuat saya bertanya-tanya dalam hati,’apakah ini bagian dalam permainan?’. Kata-kata tak- (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar