Minggu, 01 April 2018

6.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: tropi kosong)


Namun sesungguhnya tidak ada kemenangan yang kosong, meskipun tanpa tropi megah menyimbolkan. Kemenangan dalam logika yang hanya berbatas bentuk, sedang kemenangan harusnya tak memiliki batas. Menang selama anda bisa merasakannya dalam diri. Langkah pertama untuk melawan ego-ego lain dalam malaikat-malaikat pemain lain. Akan lebih mudah menghadapi pemain-pemain lain, menghadapi kejutan-kejutan dari Tuhan, saat saya telah siap dengan diri saya, saat saya menang melawan ego dalam diri. Mengendalikan ego yang selama ini mengekang malaikat untuk bergerak. Selama saya mampu dengan usaha yang saya lakukan melawan bercak didinding ruang kosong, disitulah saya merasa menang, dan harus terus seperti itu. Kemenangan pertama yang menjadi pengobar, penyulut semangat  untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Cahaya yang semakin terang 
Jiwa-jiwa itu menjadi murung, entah hal apa yang ia telah lalui, entah sejauh mana benangnya menjulur, entah serumit apa keterikatan benang yang akhirnya terbentuk, tapi berhasil membuat sebuah cahaya perlahan meredup. Warna itu memudar. Perlahan tak lagi menampakan bentuknya. Jiwa itu memanggil tanpa suara. Tak terdengar tapi begitu terasa menarik diri agar lebih mendekat dan lebih dekat. Jari-jari Tuhan menghubungkan kita. Lagi-lagi tuhan menunjukan sisi-sisi-Nya yang lain. Memunculkan perasaan yang pernah saya rasakan sebelumnya, namun getarannya berbeda. Sebelumnya tidak sehebat ini. Entahlah, saya masih harus banyak belajar akan memahami ini. Terlalu banyak mengapa dipikiran saya, dan saya perlu memilihnya satu-persatu untuk dilepaskan. Mengurai benang yang kusut dalam pikiran terlebih dahulu. Ruang ini terlalu gelap. Butuh cahaya walau hanya setitik unutk memecah balutan hitam. Permainan ini semakin dalam menguras energi saya. Tak hanya memaksa untuk terus melangkahkan kaki agar tetap seimbang, tapi juga mengharapkan saya dan sang malaikat menyumbangkan pemikiran untuk segala hal yang ada dipermainan. Ya, permainan memang seperti itu, kita memerlukan strategi khusus untuk tetap melaju, untuk tetap bertahan, untuk tetap bisa bermain, agar tahu arah permainan, agar tidak dipermainkan. Mungkin saya terlalu menikmati ayunan jari Tuhan hingga akhirnya melayang ke sisi terlarang, atau dia yang tidak bisa mengikuti alunan ritme jari Tuhan, karena dia belum terbiasa. Mungkin dia pemain baru seperti saya beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin ini memang maunya Tuhan. Mengenalkanku kepada malaikat lain yang juga ada disekeliling, tapi saya tidak begitu menyadarinya. Lain kali mungkin saya harus lebih mau peduli untuk lebih tahu. Lebih mau tahu untuk lebih mengenal. Saya tidak memperdulikannya hingga akhirnya terbentur. Benturan ini cukup hebat untuk akhirnya bisa menyadarkan kedua pemain bahwa ada hal yang sedang dan akan mereka hadapi. Benturan yang akhirnya menguhubungkan saya dan dia, menghubungkan benang kita. Meskipun sudah menjadi hal biasa untuk saya menemui hentakan-hentakan semacam ini. Namun setiap perubahan yang saya alami memiliki kesan yang berbeda, itulah yang saya rasakan. Saya takut getaran ini memutus benang harapan untuk terus bercahaya dalam permainan, karena ada saat-saat dimana malaikat kehilangan cahayanya yang tertutup kabut, yang ragu tanpa tiang Tuhan, akhirnya terputus dikikis- (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar