(Chapter 1)
Malaikat-malaikat
pilihan
Ikhlas
Waktu berjalan menggoreskan
sejarahnya yang baru, rangkaian waktu yang tercatat sebagai sejarah baru yang
tertulis untuk sebuah jiwa yang dikirim Tuhan untuk mengisi permainan hidup
yang Ia diciptakan, yang melekat dalam benak hingga akhir. Momen dimana sebuah
jiwa baru nan suci memulai perjalanan nya yang penuh cerita. Jiwa yang akan
ditempa oleh berbagai macam duri dalam hidup, merasakan madunya anugerah Tuhan
dengan berbagai macam cara-Nya yang unik. Menghujamkan diri pada sebuah titik.
Titik dimana ia akan bertahan, entah akan bertahan sampai akhir atau berhenti. Saya
adalah jiwa yang Tuhan percaya untuk bisa merasakan dunia-Nya yang begitu
rumit. Rumit bagai sebuah permainan. Saya tak tahu apa yang harus saya jalani,
namun hari ini perjalanan itu akan dimulai. Saya sang pemain baru, memiliki
begitu banyak tanya dalam benak, hingga terlalu banyak untuk diucap. Saya
terpilih untuk menjadi bagian dari permainan ini, tanpa saya bisa memilih untuk
menyetujui nya atau tidak. Ragu dan bingung adalah sahabat terbaik untuk
hal-hal baru. Namun keyakinan itu harus muncul. Harus saya buat untuk
menjatuhkan keraguan yang ada. Keraguan tentang apa dan bagaimana saya nanti,
bagaimana akhir perjalanan saya di selasar ujung jari Tuhan. Namun, selama saya
bermain bersamanya, saya percaya tidak ada hal yang patut saya ragukan. Dia-lah
Maha dari segala kehebatan yang Ia ciptakan, tanpa terkecuali, tak
terbantahkan. Tapi apakah saya satu-satunya? Apakah hanya saya yang ada dalam
genggaman tangan dan pandangannya?. Entahlah, dalam benak hanya ada keyakinan
yang bertambah. saya yakin ada pemain lain untuk dilengkapi kisahnya, permainan
yang sudah dimulai bahkan sebelum saya ada.
Mengapa dari milyaran sel-sel yang terlepas dan berenang bebas menuju indung telur hanya saya yang berhasil bertahan sampai sejauh ini? Bagaimana Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa rencanya-Nya memilih saya untuk bermain?. Perlu usaha yang keras untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa apa yang berasal dari Tuhan itu yang terbaik, karena yang manis tidak selalu menyembuhkan. Tuhan adil, jadi jangan lagi ditanyakan kalau tak ingin ada keraguan. Tuhan tahu saya ini pemain baru, butuh panduan untuk bermain, untuk mengerti jalan cerita. Butuh pengenalan. Tuhan yang begitu ramah, dalam kuasa-Nya yang tanpa batas, membuktikan itu. Ia mengirimkan malaikat-malaikat pelindung jiwa-Nya, dengan begitu manis agar jiwa yang haus akan butiran-butiran pengalaman ini menjalani permainan dengan baik, mengajarkan aturan main yang sudah Tuhan tetapkan, agar saya tidak salah dalam menentukan langkah. Malaikat yang saya kenal karena kehangatan sentuhan dan senyuman, yang saya merasa nyaman dan terlindungi saat bersamanya, saya sendiri tak tahu apa itu, siapa mereka. Saya belum mengenalnya.
Butiran-butiran sejarah itu satu-persatu mulai jatuh dan membekas, menimbulkan gurat-gurat pertanyaan besar yang menuntunku mencari jawaban dari satu titik ke titik yang lain hingga membentuk sebuah lekukkan gambar dan membuat saya belajar mengenali semua yang saya temui dan rasakan. Perlahan sisi-sisi gelap itu mulai tersibak oleh nyala cahaya. Memberi sebuah jawaban. Saya ternyata terpilih untuk melengkapi sebuah tim. Tim yang akan bersama saya dalam perjalanan melalui permainan ini. ‘Oh ternyata saya tidak sendirian’ pikirku sejenak. Sepertinya ini akan menjadi sebuah petualangan yang seru, dan beuntungnya saya menjadi salah satu diantara mereka, paling tidak saya tidak sendiri di dunia antah berantah ini. Kelompok itu dikenal-(bersambung)
Mengapa dari milyaran sel-sel yang terlepas dan berenang bebas menuju indung telur hanya saya yang berhasil bertahan sampai sejauh ini? Bagaimana Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa rencanya-Nya memilih saya untuk bermain?. Perlu usaha yang keras untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa apa yang berasal dari Tuhan itu yang terbaik, karena yang manis tidak selalu menyembuhkan. Tuhan adil, jadi jangan lagi ditanyakan kalau tak ingin ada keraguan. Tuhan tahu saya ini pemain baru, butuh panduan untuk bermain, untuk mengerti jalan cerita. Butuh pengenalan. Tuhan yang begitu ramah, dalam kuasa-Nya yang tanpa batas, membuktikan itu. Ia mengirimkan malaikat-malaikat pelindung jiwa-Nya, dengan begitu manis agar jiwa yang haus akan butiran-butiran pengalaman ini menjalani permainan dengan baik, mengajarkan aturan main yang sudah Tuhan tetapkan, agar saya tidak salah dalam menentukan langkah. Malaikat yang saya kenal karena kehangatan sentuhan dan senyuman, yang saya merasa nyaman dan terlindungi saat bersamanya, saya sendiri tak tahu apa itu, siapa mereka. Saya belum mengenalnya.
Butiran-butiran sejarah itu satu-persatu mulai jatuh dan membekas, menimbulkan gurat-gurat pertanyaan besar yang menuntunku mencari jawaban dari satu titik ke titik yang lain hingga membentuk sebuah lekukkan gambar dan membuat saya belajar mengenali semua yang saya temui dan rasakan. Perlahan sisi-sisi gelap itu mulai tersibak oleh nyala cahaya. Memberi sebuah jawaban. Saya ternyata terpilih untuk melengkapi sebuah tim. Tim yang akan bersama saya dalam perjalanan melalui permainan ini. ‘Oh ternyata saya tidak sendirian’ pikirku sejenak. Sepertinya ini akan menjadi sebuah petualangan yang seru, dan beuntungnya saya menjadi salah satu diantara mereka, paling tidak saya tidak sendiri di dunia antah berantah ini. Kelompok itu dikenal-(bersambung)
