Minggu, 01 April 2018

8.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


saya lemparkan kepadanya tanpa jawaban. Hanya tundukan kepala yang terlihat. Saya menariknya perlahan untuk lebih dekat. Selembut mungkin agar gesekan itu tidak membahayakan. Saya mengerahkan semuanya. Menariknya terus hingga lebih dekat. Saya lupakan aliran darah yang membasahi tangan. Saya lupakan semuanya. Hanya dia titik yang harus saya perhatikan.  Hanya dia yang ada dikepala saya saat ini. Dialah satu-satunya yang terlihat. Peluh dan tangis itu telah bercampur. Mengalir hingga tak terlihat lagi.

Hal aneh mulai terjadi. Ada energi muncul. Energi yang tiba-tiba berkobar dalam diri saya. Energi yang membuat saya lebih bercahaya. Membuat wajah itu mulai menunjukan bentuknya. Wajah yang tadi disembunyikan oleh gelapnya permainan. Kini saya melihatnya. Wajah malaikat yang sedang saya perjuangkan. Akhirnya saya melihat wajah itu. Terlihat payah. Wajah itu ingin mengatakan sesuatu. Terlalu kaku lidah untuk menari. Terlalu sesak nafas. Air itu mengalir lebih deras. Dekapan itu akhirnya bisa saya berikan. ‘Bangunlah!, Bangun! Kita harus bertahan!’ teriaku dalam gelap kepiluan. Ini terlalu menyakitkan. Tuhan, tidak kah Kau merasa saya terlalu dini untuk merasakan ini semua? Apa yang sedang Kau pikirkan?. Saya menangis sejadinya. Berteriak hingga tak tahu lagi untuk apa saya berteriak. Mendekap hingga air mata itu berurai tak terarah. Pejaman mata yang begitu damai ini membuat segalanya sulit untuk diterima. Saya sangat ingin melihatnya kembali. Saya ingin ia bertahan. Tak lelah pesan ini saya sampaikan padanya. Saya berharap ia tahu. Berharap ia menerima pesan terkahir yang ingin saya sampaikan.

Diri ini semakin lemas dibuatnya, namun tidak dengan cahaya ini. Cahaya yang perlahan semakin meluas. Menyinari seluruh tubuh ini. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya merasa buntu. Inikah akhir dari bagian ini? Saya merasa ini sangat berat untuk dilalui. Saya tak tahu pasti. Saya merasa ini sudah berakhir. Terlalu berat untuk dirasakan. Mulut ini terbungkam. Wajah ini bak setengah mati, tapi bayangan itu malah semakin meluas menyinari. Mana keajaiban itu. Keajaiban yang selama ini saya harapkan. Dimana Tuhan?. Mengapa Tuhan tidak muncul di saat-saat seperti ini. Masihkah berarti jika muncul disaat yang seharusnya semua sudah selesai, karena tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Tidak ada lagi malaikat itu. Benak ini sudah kusut. Cahaya yang bersinar terang ini hanya menunjukan kemuraman dan kemarahan saya akan semua ini. 
Terlalu besar kekecewaan ini. Saya bahkan sudah terlalu lelah untuk mencari tahu sebesar apa. Tapi yang pasti sangat besar. Sangat membekas. Kepedihan yang disinari cahaya. Cahaya yang kini sinarnya mulai terbelah. Menunjukan lekuk-lekuk yang mulai berbayang, mulai bergoyang-goyang. Saya sudah tidak peduli dengan hal-hal itu. Pikiran ini masih menyesalkan keadaan yang terjadi. Tapi cahaya ini. Semakin lama semakin kuat. Saya bisa merasakan energinya. Tapi energi ini bukan dari dalam diri saya. Ini cahaya lain. Tapi dari mana? Inikah cahaya Tuhan? Semakin luas. Semakin nyata. Semakin mendekat. Wajah yang begitu lirih tadi, kini tersenyum, terangnya melebihi apa yang saya bagikan. ‘Dia kembali? Benarkah? Bagaimana bisa?’ terlalu banyak tanya dalam benak. Hal ini membuat saya terkejut. Apakah ia benar-benar kembali?. Mungkinkah ia merasakan perasaan itu?. Saya harap ini bukan proyeksi pikiran saya karena perasaan kehilangan yang begitu besar. Dia mendekat tepat dihadapanku. Ini nyata. Dia kembali. Dia terlihat berbeda. Terlihat jauh lebih baik. Perasaan itu benar-benar menghinggapinya. Sunggingan senyumnya bahkan lebih bercahaya dari apa yang ia sebarkan. Mungkinkah dia juga merasakan apa yang sedang saya rasakan. Perjuangan itu benarkah dia rasakan?. Jika melihat dari keajaiban ini. Keajaiban yang begitu ditunggu akhirnya muncul. Sepertinya ia merasakan hal yang sama. Ia merasakan energi terakhir yang saya sampaikan. Energi kepedihan saat -(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar