saya kehilangan
dia. Perjuangan itu membuatnya bertahan. Ia menerima energi itu. Energi yang
membuat dia akhirnya bertahan dan mulai memahami bahwa ada malaikat lain yang
percaya ia mampu bercahaya. Ada malaikat yang peduli atas kehadirannya dan
merasa terluka saat ia pergi. Perasaan yang menyulut energi luar biasa. Cahaya
yang akhirnya menunjukan bahwa ia tidak mau jatuh, ia peduli dengan dirinya. Untuk
cahayanya agar tetap terang, dan untuk cahaya saya yang tetap bertahan untuknya
sampai sejauh ini. Tidak ada hal yang paling membahagiakan dibandingkan
perasaan ini. Pengorbanan yang dilakukan agar cahaya yang dititipkan Tuhan
tidak redup begitu saja tanpa dilapisi perjuangan. Pertemuan yang telah di setting oleh Tuhan dengan caranya yang
lagi-lagi sulit dipahami logika, namun begitu terasa dalam dan menyentuh hati.
Dada yang menjadi sesak karenanya. Permainan Tuhan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan.
Resiko menjadi tangga disetiap ruang yang saya lalui dalam permainan ini.
Karena setiap permainan memang beresiko. Agar kita berjuang sampai titik akhir.
Agar ada titik yang lebih tinggi dapat dipijakkan. Hingga kita benar-benar
tidak lagi punya energi. Tidak ada lagi cahaya. Ini pelajaran baru dari Tuhan.
Dengan caranya amat sangat tidak lucu, tapi pada akhirnya membuat saya bangga
setiap kali saya mengingatnya.
Bukankah dari
awal Tuhan hanya menentukan start
tempat kita memulai? Entah dari lantai berapa kita memulai, entah berjalan
merangkak atau berlari, entah sendiri atau bersama-sama, entah jalan mana dan
bagaimana saya sampai finish, itu
kuasa yang Tuhan berikan pada semua pemain. Akan banyak malaikat yang kita
temui setiap tangga yang kita naiki. Dan dialah orang yang Tuhan pertemukan
dipersimpangan jalan yang saya lalui. Yang kukenal sebagai Nara. Saya harus
mengenalnya sebelum saya bagikan. Mengenalnya lebih dalam. Entah ini sebuah
keberuntungan atau sebaliknya tapi inilah bagian abu-abu dari Tuhan yang tidak
akan pernah berubah. Tetap menjadi misteri. Tuhan tahu semua hal yang terjadi
pada saya dan dia, itu cukup melegakan. Terlepas apakah ini akhir dari kami atau
bukan, namun jika Tuhan sekejam itu, kami siap mengakhiri permainan ini, tapi
jika Tuhan hanya menguji kami, dan ini merupakan caranya yang lain untuk
mengenalkan kami satu dengan yang lain, kuharap caranya akan lebih Ia perhalus.
Saya menantangnya dalam hal ini. Saya mencoba menantang Tuhan diatas
kepedulian. Apakah ia peduli terhadap malaikat-malaikatnya ini? Seperti halnya
kami yang belajar untuk menjaga kepedulian itu. Kepedulian yang harusnya
dipupuk, dijaga, karena hubungannya yang begitu erat dengan perasaan, yang kadang
kala menyisihkan logika di selasar. Karena terkadang kita membela mati-matian hal
yang tidak bisa diterima akal hanya kita peduli. Kepedulian yang hanya punya
satu sisi. Semakin bercahaya saat energinya dilepas. Semakin menguatkan saat
dibagikan.
Abu-abu
Yang berwarna
Setelah apa
yang terjadi, sulit rasanya untuk tidak marah pada Tuhan. Dengan kuasa-Nya, Ia
bisa saja mengirim ya-Nya tanpa ada
darah dan kekecewaan. Saya merasa begitu sakit. Nara mungkin juga merasakan hal
yang sama. Apakah Tuhan merasakan kepedihan yang sama?. Saya yakin Tuhan juga
tersentuh. Tapi mengapa Ia membiarkan ini terjadi. Tidak bisakah ia mencegahnya
untuk terjadi?. Hari itu semua berjalan lebih lama dari biasanya. Langkah
terasa lebih berat untuk ditapaki. Tangga menjadi lebih tinggi. Puncak itu nampak
lebih sulit untuk ditaklukan. Mengingatkan saya akan peristiwa 8 Oktober satu
dekade silam. Hari itu, malam menajalankan tugasnya dengan begitu baik. Sepi.
Teduh dan gelap. Hanya ada cahaya-cahaya lampu dipermukiman yang terlihat.
Bulan terlalu malu untuk menampak kan pesonanya yang menakjubkan. Langit malam ini
terasa begitu polos. Hanya tapak kaki mengiringi sepinya malam. Seakan
memberikan nyanyian yang merdu melengkapi suasana temaram kala itu. Hentakan
kaki yang berat itu semakin lama semakin kerasa terdengar. Memecahkan
keheningan yang begitu mendamaikan. Malam itu salah satu malaikat tercantik
dalam permainan turun dari khayangan. Malaikat yang selalu mendamaikan perasaan
saya saat malaikat dalam diri terlalu lelah berjuang. Dia berhasil masuk dan
bertahan didalam pikiran saya. Saat semua datang dan hanya mengetuk pintu. Dia
yang terbaik. Shuva sedang dalam masa terbaiknya sebagai malaikat. Banyak hal
yang pasti ia telah lewati. Ia bermain jauh sebelum saya terjerat dalam
permainan ini. Ia memulainya dan
bertahan sampai saat ini. Ia tumbuh begitu anggun, dewasa. Ia mengajarkan saya
banyak hal tentang permainan ini. Ia menjadi bagian terbaik dalam permainan ini
bagi saya pribadi.
Shuva datang
untuk berkunjung, bercengkrama dengan malaikat-malaikat yang lama telah ia
tinggalkan. Permainan ini membolehkannya untuk berjuang dengan malaikat lain
yang ia pilih. Saat ia merasa kematangan jiwa sudah ia raih sepenuhnya. Yang
sampai saat ini saya belum dapatkan. Saya sedang berusaha untuk itu. Kebebasan
lain dari permainan ini. Kejutan yang lama-kelamaan menjadi hal biasa. Dan
sekarang ia kembali menemui kami. Ia terlihat lebih bercahaya, senyumnya
mengatakan itu. Tak hentinya ia melemparkan senyum seraya berjalan dengan
tertatih. Perutnya semakin membesar. Ia terlihat begitu lemah, tapi cahayanya
menerangi malam ini sampai batas yang mungkin tidak bisa anda bayangkan. Ini
terlalu luar biasa untuk diceritakan. Malaikat baru akan segera muncul. Pemain
baru akan bergabung bersama kelompok kami. Seperti saya dulu. Akan ada yang
memulai perjalanan nya tak lama lagi. Jawaban yang cukup lama saya tunggu dari
pertanyaan bagaimana mana saya benar-benar berawal.
Ia datang dengan
membawa beberapa kisah untuk dibagi. Bagaimana ia bertahan bersama malaikat
pilihannya. Bagaimana Ia merindukan kami yang dulu begitu lama bersamanya.
Bercerita tentang letihnya melakukan perjalanan hingga sampai bertatap muka
seperti ini. Pembicaraan yang sangat biasa dilakukan, kini terasa begitu spesial.
Saat-saat seperti ini membuat saya merasa seperti terlahir kembali. Dia yang
sekarang, membawa energi yang lebih besar. Malam ini menjadi lebih hangat,
lebih terang dari sebelumnya. Dialah salah satu sumber cahaya dalam diri saya
tidak pernah redup.
Malam ini
hampir selesai. Hari akan segera beralih ke permulaannya yang baru. Jarum itu menunjuk
ke arah 12 dan terus melangkah naik. Ingin sekali saya patahkan atau saya
permainkan sebentar jarum yang bergerak itu. Waktu begitu adil dan sempurna
memainkan perannya. Tapi saya sadar bahwa tidak ada yang saya lewatkan sampai
saat ini. Meski pertemuan dengan shuva masih terasa kurang bagi saya. Saya
ingin ia tinggal lebih lama, paling tidak sampai mata saya ini terpejam. Dalam
hal ini, kuasa yang saya miliki terbatas. Ada malaikat lain yang menunggunya,
dan mungkin ini memang sudah waktunya ia pulang. Kembali ketempat ia seharusnya
berada saat itu. Ia pulang meninggalkan bunga yang harum disisi ruang kosong
dalam diri saya. Yang akan saya jaga sampai ia kembali.
Jarum yang terkena cahaya itu tidak begitu jelas.
Terlalu menyilaukan. Samar terlihat mengarah ke 3.40am saat saya mulai terjaga.
Shuva membangunkan saya yang sedang dalam permainan di dimensi yang lain. Ia kembali
lagi tapi dengan cara yang berbeda. Ia datang menyiram bunga yang ia tinggalkan
dengan sekotak berita tentangnya. Berita yang belum -(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar