Minggu, 01 April 2018

10.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


saya kehilangan dia. Perjuangan itu membuatnya bertahan. Ia menerima energi itu. Energi yang membuat dia akhirnya bertahan dan mulai memahami bahwa ada malaikat lain yang percaya ia mampu bercahaya. Ada malaikat yang peduli atas kehadirannya dan merasa terluka saat ia pergi. Perasaan yang menyulut energi luar biasa. Cahaya yang akhirnya menunjukan bahwa ia tidak mau jatuh, ia peduli dengan dirinya. Untuk cahayanya agar tetap terang, dan untuk cahaya saya yang tetap bertahan untuknya sampai sejauh ini. Tidak ada hal yang paling membahagiakan dibandingkan perasaan ini. Pengorbanan yang dilakukan agar cahaya yang dititipkan Tuhan tidak redup begitu saja tanpa dilapisi perjuangan. Pertemuan yang telah di setting oleh Tuhan dengan caranya yang lagi-lagi sulit dipahami logika, namun begitu terasa dalam dan menyentuh hati. Dada yang menjadi sesak karenanya. Permainan Tuhan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan. Resiko menjadi tangga disetiap ruang yang saya lalui dalam permainan ini. Karena setiap permainan memang beresiko. Agar kita berjuang sampai titik akhir. Agar ada titik yang lebih tinggi dapat dipijakkan. Hingga kita benar-benar tidak lagi punya energi. Tidak ada lagi cahaya. Ini pelajaran baru dari Tuhan. Dengan caranya amat sangat tidak lucu, tapi pada akhirnya membuat saya bangga setiap kali saya mengingatnya.

Bukankah dari awal Tuhan hanya menentukan start tempat kita memulai? Entah dari lantai berapa kita memulai, entah berjalan merangkak atau berlari, entah sendiri atau bersama-sama, entah jalan mana dan bagaimana saya sampai finish, itu kuasa yang Tuhan berikan pada semua pemain. Akan banyak malaikat yang kita temui setiap tangga yang kita naiki. Dan dialah orang yang Tuhan pertemukan dipersimpangan jalan yang saya lalui. Yang kukenal sebagai Nara. Saya harus mengenalnya sebelum saya bagikan. Mengenalnya lebih dalam. Entah ini sebuah keberuntungan atau sebaliknya tapi inilah bagian abu-abu dari Tuhan yang tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi misteri. Tuhan tahu semua hal yang terjadi pada saya dan dia, itu cukup melegakan. Terlepas apakah ini akhir dari kami atau bukan, namun jika Tuhan sekejam itu, kami siap mengakhiri permainan ini, tapi jika Tuhan hanya menguji kami, dan ini merupakan caranya yang lain untuk mengenalkan kami satu dengan yang lain, kuharap caranya akan lebih Ia perhalus. Saya menantangnya dalam hal ini. Saya mencoba menantang Tuhan diatas kepedulian. Apakah ia peduli terhadap malaikat-malaikatnya ini? Seperti halnya kami yang belajar untuk menjaga kepedulian itu. Kepedulian yang harusnya dipupuk, dijaga, karena hubungannya yang begitu erat dengan perasaan, yang kadang kala menyisihkan logika di selasar. Karena terkadang kita membela mati-matian hal yang tidak bisa diterima akal hanya kita peduli. Kepedulian yang hanya punya satu sisi. Semakin bercahaya saat energinya dilepas. Semakin menguatkan saat dibagikan.


Abu-abu Yang berwarna

Setelah apa yang terjadi, sulit rasanya untuk tidak marah pada Tuhan. Dengan kuasa-Nya, Ia bisa saja mengirim ya-Nya tanpa ada darah dan kekecewaan. Saya merasa begitu sakit. Nara mungkin juga merasakan hal yang sama. Apakah Tuhan merasakan kepedihan yang sama?. Saya yakin Tuhan juga tersentuh. Tapi mengapa Ia membiarkan ini terjadi. Tidak bisakah ia mencegahnya untuk terjadi?. Hari itu semua berjalan lebih lama dari biasanya. Langkah terasa lebih berat untuk ditapaki. Tangga menjadi lebih tinggi. Puncak itu nampak lebih sulit untuk ditaklukan. Mengingatkan saya akan peristiwa 8 Oktober satu dekade silam. Hari itu, malam menajalankan tugasnya dengan begitu baik. Sepi. Teduh dan gelap. Hanya ada cahaya-cahaya lampu dipermukiman yang terlihat. Bulan terlalu malu untuk menampak kan pesonanya yang menakjubkan. Langit malam ini terasa begitu polos. Hanya tapak kaki mengiringi sepinya malam. Seakan memberikan nyanyian yang merdu melengkapi suasana temaram kala itu. Hentakan kaki yang berat itu semakin lama semakin kerasa terdengar. Memecahkan keheningan yang begitu mendamaikan. Malam itu salah satu malaikat tercantik dalam permainan turun dari khayangan. Malaikat yang selalu mendamaikan perasaan saya saat malaikat dalam diri terlalu lelah berjuang. Dia berhasil masuk dan bertahan didalam pikiran saya. Saat semua datang dan hanya mengetuk pintu. Dia yang terbaik. Shuva sedang dalam masa terbaiknya sebagai malaikat. Banyak hal yang pasti ia telah lewati. Ia bermain jauh sebelum saya terjerat dalam permainan  ini. Ia memulainya dan bertahan sampai saat ini. Ia tumbuh begitu anggun, dewasa. Ia mengajarkan saya banyak hal tentang permainan ini. Ia menjadi bagian terbaik dalam permainan ini bagi saya pribadi.

Shuva datang untuk berkunjung, bercengkrama dengan malaikat-malaikat yang lama telah ia tinggalkan. Permainan ini membolehkannya untuk berjuang dengan malaikat lain yang ia pilih. Saat ia merasa kematangan jiwa sudah ia raih sepenuhnya. Yang sampai saat ini saya belum dapatkan. Saya sedang berusaha untuk itu. Kebebasan lain dari permainan ini. Kejutan yang lama-kelamaan menjadi hal biasa. Dan sekarang ia kembali menemui kami. Ia terlihat lebih bercahaya, senyumnya mengatakan itu. Tak hentinya ia melemparkan senyum seraya berjalan dengan tertatih. Perutnya semakin membesar. Ia terlihat begitu lemah, tapi cahayanya menerangi malam ini sampai batas yang mungkin tidak bisa anda bayangkan. Ini terlalu luar biasa untuk diceritakan. Malaikat baru akan segera muncul. Pemain baru akan bergabung bersama kelompok kami. Seperti saya dulu. Akan ada yang memulai perjalanan nya tak lama lagi. Jawaban yang cukup lama saya tunggu dari pertanyaan bagaimana mana saya benar-benar berawal.

Ia datang dengan membawa beberapa kisah untuk dibagi. Bagaimana ia bertahan bersama malaikat pilihannya. Bagaimana Ia merindukan kami yang dulu begitu lama bersamanya. Bercerita tentang letihnya melakukan perjalanan hingga sampai bertatap muka seperti ini. Pembicaraan yang sangat biasa dilakukan, kini terasa begitu spesial. Saat-saat seperti ini membuat saya merasa seperti terlahir kembali. Dia yang sekarang, membawa energi yang lebih besar. Malam ini menjadi lebih hangat, lebih terang dari sebelumnya. Dialah salah satu sumber cahaya dalam diri saya tidak pernah redup.

Malam ini hampir selesai. Hari akan segera beralih ke permulaannya yang baru. Jarum itu menunjuk ke arah 12 dan terus melangkah naik. Ingin sekali saya patahkan atau saya permainkan sebentar jarum yang bergerak itu. Waktu begitu adil dan sempurna memainkan perannya. Tapi saya sadar bahwa tidak ada yang saya lewatkan sampai saat ini. Meski pertemuan dengan shuva masih terasa kurang bagi saya. Saya ingin ia tinggal lebih lama, paling tidak sampai mata saya ini terpejam. Dalam hal ini, kuasa yang saya miliki terbatas. Ada malaikat lain yang menunggunya, dan mungkin ini memang sudah waktunya ia pulang. Kembali ketempat ia seharusnya berada saat itu. Ia pulang meninggalkan bunga yang harum disisi ruang kosong dalam diri saya. Yang akan saya jaga sampai ia kembali.
Jarum yang terkena cahaya itu tidak begitu jelas. Terlalu menyilaukan. Samar terlihat mengarah ke 3.40am saat saya mulai terjaga. Shuva membangunkan saya yang sedang dalam permainan di dimensi yang lain. Ia kembali lagi tapi dengan cara yang berbeda. Ia datang menyiram bunga yang ia tinggalkan dengan sekotak berita tentangnya. Berita yang belum -(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar