Minggu, 01 April 2018

7.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


ketidakpedulian. Seperti pagi yang membutuhkan hembusan angin sejuk agar hari dapat memulaikan langkahnya menghidupi ribuan malaikat. Keadaan-keadaan yang terus berubah, mengikuti alur-Nya. Saya tidak bisa memilih situasi seperti apa yang akan saya hadapi, memilih untuk pasrah kemudian terbenam dan mati, atau bertahan dan mencari jalan keluar disetiap keadaan. Menyelesaikannya hingga akhir. Akhir permainan yang sebenarnya.

Getaran ini semakin lama semakin kuat, semakin cepat. Makin lama makin menghawatirkan. Jika saya tidak bisa mengontrolnya, benang saya akan terputus. Mungkin miliknya juga akan terputus. Akan ada malaikat yang redup cahayanya secara perlahan dan mati untuk selamanya. Permainannya selesai sampai disini. Harus ada perjuangan untuk bisa bertahan. Saya harus bertahan. Saya yakin malaikat saya mampu. Tapi dia mungkinkah mampu bertahan?  Mungkinkah dia bisa menahannya lebih lama? Ia tidak terlihat demikian. Ia butuh dorongan. Sokongan cahaya yang lebih kuat. Saya memutuskan untuk melilitkan benang yang menopang agar lebih kuat mengikat. Saya berharap bisa saling menguatkan. Meningkatkan energi cahaya agar ia yang hampir jatuh menuju dasar yang gelap, bisa lebih terlihat. Menyelamatkan cahaya dan waktu. Saya mengambil resiko terberat dalam permainan: menuju dasar yang gelap kemudian mati. Saya mengerahkan seluruh energi untuk malaikat yang saya sendiri belum mengenalnya dengan jelas. Tapi saya berpikir bahwa ini tentang saya dan ujian yang sedang saya jalani. Tentang bagaimana saya menuliskan semua jawaban yang terlampir dipikiran dalam secarik lembar. Namun dia, entah bagaimana ia menyelesaikan ujiannya saat ini, itu urusannya dengan Tuhan. Itu diluar kendaliku.

Cahaya itu semakin terang. Sudut-sudut yang tadinya gelap tanpa lekuk. Sunyi dalam kediamannya. Saat ini mulai terlihat bergoyang mengikuti alunan cahaya yang menghujaninya. Cahaya yang entah sampai kapan bertahan. Lorong ini terlalu luas untuk diterangi seluruhnya. Butuh dihujani cahaya yang lebih besar untuk bisa terlepas dan naik ke atas. Cahaya untuk menerbangkan 2 malaikat tak bersayap. Saya butuh sumber cahaya tambahan agar kami bisa bertahan lebih lama. Kami saling menatap. Mencoba berkomunikasi dalam kebisuan. Cahaya ini cukup menyinari wajahnya yang nampak suci. Wajah penuh kebingungan dan aliran air ketakutan, yang menghamba untuk sebuah harapan baru. Rupa yang mampu menimbulkan perasaan itu. Perasaan yang menjadi sumber cahaya dalam diri. Perasaan yang lama-kelamaan menguat. Cahaya itu menyusuri lebih luas, lebih dalam. Ia berhasil menyulut energi-energi baru. Energi yang belum saya rasakan darinya, yang ia belum bersedia membaginya, bahkan disaat-saat seperti ini. Saya harus menyulut energinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya bercahaya. Tapi apa dan bagaimana memulainya. Masihkah ada waktu untuk saya berfikir disaat-saat seperti ini?. Hal ini menjadi semakin rumit. Cahaya ini memang semakin luas menyinari tapi entah sampai kapan akan bertahan, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu hanya satu hal  bahwa benang ini semakin melepaskan ikatanya, semakin merenggang. Sentuhan lembut akan membuatnya terputus. Kami butuh keajaiban. Cahaya keajaiban yang harus muncul sebelum benang-benang ini  benar-benar mengakhiri semuanya.
Cahayanya meredup. Benang ini semakin menjulur, semakin merenggang. Dia yang selama ini saya pertahankan akhirnya meredup perlahan. ‘Hei, bertahanlah! Bertahan sedikit lagi’ bisik yang- (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar