ketidakpedulian.
Seperti pagi yang membutuhkan hembusan angin sejuk agar hari dapat memulaikan
langkahnya menghidupi ribuan malaikat. Keadaan-keadaan yang terus berubah,
mengikuti alur-Nya. Saya tidak bisa memilih situasi seperti apa yang akan saya
hadapi, memilih untuk pasrah kemudian terbenam dan mati, atau bertahan dan
mencari jalan keluar disetiap keadaan. Menyelesaikannya hingga akhir. Akhir
permainan yang sebenarnya.
Getaran ini semakin
lama semakin kuat, semakin cepat. Makin lama makin menghawatirkan. Jika saya
tidak bisa mengontrolnya, benang saya akan terputus. Mungkin miliknya juga akan
terputus. Akan ada malaikat yang redup cahayanya secara perlahan dan mati untuk
selamanya. Permainannya selesai sampai disini. Harus ada perjuangan untuk bisa
bertahan. Saya harus bertahan. Saya yakin malaikat saya mampu. Tapi dia
mungkinkah mampu bertahan? Mungkinkah
dia bisa menahannya lebih lama? Ia tidak terlihat demikian. Ia butuh dorongan. Sokongan
cahaya yang lebih kuat. Saya memutuskan untuk melilitkan benang yang menopang
agar lebih kuat mengikat. Saya berharap bisa saling menguatkan. Meningkatkan
energi cahaya agar ia yang hampir jatuh menuju dasar yang gelap, bisa lebih
terlihat. Menyelamatkan cahaya dan waktu. Saya mengambil resiko terberat dalam
permainan: menuju dasar yang gelap kemudian mati. Saya mengerahkan seluruh
energi untuk malaikat yang saya sendiri belum mengenalnya dengan jelas. Tapi
saya berpikir bahwa ini tentang saya dan ujian yang sedang saya jalani. Tentang
bagaimana saya menuliskan semua jawaban yang terlampir dipikiran dalam secarik
lembar. Namun dia, entah bagaimana ia menyelesaikan ujiannya saat ini, itu
urusannya dengan Tuhan. Itu diluar kendaliku.
Cahaya itu
semakin terang. Sudut-sudut yang tadinya gelap tanpa lekuk. Sunyi dalam
kediamannya. Saat ini mulai terlihat bergoyang mengikuti alunan cahaya yang
menghujaninya. Cahaya yang entah sampai kapan bertahan. Lorong ini terlalu luas
untuk diterangi seluruhnya. Butuh dihujani cahaya yang lebih besar untuk bisa
terlepas dan naik ke atas. Cahaya untuk menerbangkan 2 malaikat tak bersayap.
Saya butuh sumber cahaya tambahan agar kami bisa bertahan lebih lama. Kami
saling menatap. Mencoba berkomunikasi dalam kebisuan. Cahaya ini cukup
menyinari wajahnya yang nampak suci. Wajah penuh kebingungan dan aliran air
ketakutan, yang menghamba untuk sebuah harapan baru. Rupa yang mampu
menimbulkan perasaan itu. Perasaan yang menjadi sumber cahaya dalam diri.
Perasaan yang lama-kelamaan menguat. Cahaya itu menyusuri lebih luas, lebih dalam.
Ia berhasil menyulut energi-energi baru. Energi yang belum saya rasakan darinya,
yang ia belum bersedia membaginya, bahkan disaat-saat seperti ini. Saya harus
menyulut energinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya bercahaya.
Tapi apa dan bagaimana memulainya. Masihkah ada waktu untuk saya berfikir
disaat-saat seperti ini?. Hal ini menjadi semakin rumit. Cahaya ini memang
semakin luas menyinari tapi entah sampai kapan akan bertahan, saya juga tidak
tahu. Yang saya tahu hanya satu hal
bahwa benang ini semakin melepaskan ikatanya, semakin merenggang. Sentuhan
lembut akan membuatnya terputus. Kami butuh keajaiban. Cahaya keajaiban yang
harus muncul sebelum benang-benang ini benar-benar mengakhiri semuanya.
Cahayanya meredup. Benang ini semakin menjulur,
semakin merenggang. Dia yang selama ini saya pertahankan akhirnya meredup perlahan.
‘Hei, bertahanlah! Bertahan sedikit lagi’ bisik yang- (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar