Minggu, 01 April 2018

1.God's Gift: Sang Pemain




(Chapter 1)
Malaikat-malaikat pilihan

Ikhlas

Waktu berjalan menggoreskan sejarahnya yang baru, rangkaian waktu yang tercatat sebagai sejarah baru yang tertulis untuk sebuah jiwa yang dikirim Tuhan untuk mengisi permainan hidup yang Ia diciptakan, yang melekat dalam benak hingga akhir. Momen dimana sebuah jiwa baru nan suci memulai perjalanan nya yang penuh cerita. Jiwa yang akan ditempa oleh berbagai macam duri dalam hidup, merasakan madunya anugerah Tuhan dengan berbagai macam cara-Nya yang unik. Menghujamkan diri pada sebuah titik. Titik dimana ia akan bertahan, entah akan bertahan sampai akhir atau berhenti. Saya adalah jiwa yang Tuhan percaya untuk bisa merasakan dunia-Nya yang begitu rumit. Rumit bagai sebuah permainan. Saya tak tahu apa yang harus saya jalani, namun hari ini perjalanan itu akan dimulai. Saya sang pemain baru, memiliki begitu banyak tanya dalam benak, hingga terlalu banyak untuk diucap. Saya terpilih untuk menjadi bagian dari permainan ini, tanpa saya bisa memilih untuk menyetujui nya atau tidak. Ragu dan bingung adalah sahabat terbaik untuk hal-hal baru. Namun keyakinan itu harus muncul. Harus saya buat untuk menjatuhkan keraguan yang ada. Keraguan tentang apa dan bagaimana saya nanti, bagaimana akhir perjalanan saya di selasar ujung jari Tuhan. Namun, selama saya bermain bersamanya, saya percaya tidak ada hal yang patut saya ragukan. Dia-lah Maha dari segala kehebatan yang Ia ciptakan, tanpa terkecuali, tak terbantahkan. Tapi apakah saya satu-satunya? Apakah hanya saya yang ada dalam genggaman tangan dan pandangannya?. Entahlah, dalam benak hanya ada keyakinan yang bertambah. saya yakin ada pemain lain untuk dilengkapi kisahnya, permainan yang sudah dimulai bahkan sebelum saya ada. 
Mengapa dari milyaran sel-sel yang terlepas dan berenang bebas menuju indung telur hanya saya yang berhasil bertahan sampai sejauh ini? Bagaimana Tuhan membiarkan ini terjadi? Apa rencanya-Nya memilih saya untuk bermain?. Perlu usaha yang keras untuk benar-benar meyakinkan diri bahwa apa yang berasal dari Tuhan itu yang terbaik, karena yang manis tidak selalu menyembuhkan. Tuhan adil, jadi jangan lagi ditanyakan kalau tak ingin ada keraguan. Tuhan tahu saya ini pemain baru, butuh panduan untuk bermain, untuk mengerti jalan cerita. Butuh pengenalan. Tuhan yang begitu ramah, dalam kuasa-Nya yang tanpa batas, membuktikan itu. Ia mengirimkan malaikat-malaikat pelindung jiwa-Nya, dengan begitu manis agar jiwa yang haus akan butiran-butiran pengalaman ini menjalani permainan dengan baik, mengajarkan aturan main yang sudah Tuhan tetapkan, agar saya tidak salah dalam menentukan langkah. Malaikat yang saya kenal karena kehangatan sentuhan dan senyuman, yang saya merasa nyaman dan terlindungi saat bersamanya, saya sendiri tak tahu apa itu, siapa mereka. Saya belum mengenalnya.
Butiran-butiran sejarah itu satu-persatu mulai jatuh dan membekas, menimbulkan gurat-gurat pertanyaan besar yang menuntunku mencari jawaban dari satu titik ke titik yang lain hingga membentuk sebuah lekukkan gambar dan membuat saya belajar mengenali semua yang saya temui dan rasakan. Perlahan sisi-sisi gelap itu mulai tersibak oleh nyala cahaya. Memberi sebuah jawaban. Saya ternyata terpilih untuk melengkapi sebuah tim. Tim yang akan bersama saya dalam perjalanan melalui permainan ini. ‘Oh ternyata saya tidak sendirian’ pikirku sejenak. Sepertinya ini akan menjadi sebuah petualangan yang seru, dan beuntungnya saya menjadi salah satu diantara mereka, paling tidak saya tidak sendiri di dunia antah berantah ini. Kelompok itu dikenal-(bersambung)

2.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: Ikhlas)

 sebagai keluarga. Sebagai pemain baru, saya rasa Tuhan cukup adil memilihkan jalan ini untuk saya, perjalanan yang saya bahkan tidak tahu akan menjadi perjalanan seperti apa nanti, akankah mudah atau memerlukan keringat berlebih untuk dijalani, tapi yang pasti untuk bisa menang, saya harus tahu permainan yang sedang  saya mainkan, dan saya hanya punya pilihan untuk maju, maju atau menjadi sebuah masa lalu yang hanya bisa diingat.
Semoga Tuhan memberiku alasan terbaik menempatkan saya disisi mereka. Waktu yang berjalan begitu anggun, masa-masa yang baru ini, alunan irama hidup ini begitu saya nikmati. Saya berharap selamanya seperti ini, tidak ada yang berubah sedikitpun, tetap mengalir tenang, bak air dalam telaga yang jernih dengan segala arahnya bergerak, mengalun menyusuri setiap sisi yang dilaluinya. Kenikmatan yang selalu membuai hingga titik yang tidak seharusnya saya bertepi. Yang membuat saya lupa bahwa ada hal yang harus saya selesaikan. Ada perjalanan yang harus saya tempuh. Saya harus bergerak.
Perjalanan yang sudah dilalui begitu mengajarkan banyak hal, namun tetap saja permainan ini belum begitu saya pahami sepenuhnya. Saya masih harus terus belajar dan belajar sampai saya tahu, sampai saya mengerti setiap sudutnya, dan menuliskan akhir seperti apa yang akan saya mau. Permainan ini penuh dengan inkonsistensi situasi, namun kadang berulang membuat saya belajar akan banyak hal. Mengajarkan saya untuk harus belajar berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri, menyisipkan Tuhan untuk semua langkah yang akan saya jalani. Perubahan yang membimbing untuk berjalan diatas kaki sendiri, kaki yang dengan sempurna nya Tuhan ciptakan, kesungguhan Tuhan yang kurasakan begitu hebatnya dalam diri, hingga akhirnya saya sadar, bahwa Tuhan  menitipkan malaikat yang begitu indah dan kuat dalam diri setiap ciptaan-Nya. Malaikat yang setia menemani di setiap keadaan yang menempa. Melekat seperti keluarga tapi jauh lebih dalam, lebih terikat. Malaikat dalam diri ini lah yang menjadi kejutan berikutnya setelah keluarga. Saya ingin mengenalnya lebih jauh. Setelah apa yang saya lalui, saya tidak ingin membuatnya lemah, saya akan melatihnya, harus lebih kuat. Entah ini bagian dari permainan Tuhan atau bukan, tapi ini jalan berikutnya yang akan saya pilih.
Saya percaya Tuhan sudah memilih ribuan pemain dijemari nya untuk diperhatikan. Kuharap Tuhan tahu apa yang sedang Ia mainkan, saya percaya Ia hebat, keyakinan saya penuh akan kuasa-Nya, harapku juga besar mengisi ribuan harapan sang pemain yang sedang bertarung. Saya terpilih, dan saya tidak bisa mundur, keadaan memaksa saya untuk terus maju, melangkah walau hanya 1 inci ke depan. Sudah menjadi sifat dasar malaikat-malaikat seperti saya ini untuk mau tahu, meski kadang tak mau peduli. Semua saya lalui, perlahan saya belajar memahami kepingan demi kepingan yang terurai dipikiran, terlilit dalam ketidaktahuan, meski kadang keraguan masih terus membayangi atas apa yang saya jalani. Keraguan atas takdir ini. Takdir yang membawa saya menjalani hal-hal yang belum saya temui, rasakan dan pikirkan sebelumnya. Terkadang saya memilih untuk merangkak, agar tidak terjatuh terlalu dalam. Menjalani kehidupan setiap harinya dengan baik, rapi dan teratur, mengikuti pola yang sudah terbentuk. Hidup yang saya sendiri tidak memilih untuk menjalaninya, dan perlahan waktu membuatnya terbiasa untuk dijalani.


Ruang kosong
Perjalanan ini memulai babak barunya. Hari demi hari berganti menjadi tahun hingga akhirnya saya tercebur dalam pengulangan situasi. Saya senang karena setiap hal berjalan dengan begitu baiknya. Saya merasa Tuhan menggerakan jarinya dengan ramah, tanpa mengoyak tali disisi jari yang lain, tapi saya merasa ada aneh, karena sesungguhnya saya tidak pernah mau-(bersambung)

3.God's Gift: Sang Pemain


(lanjutan: Ruang Kosong)

memulai ini. Saya bahagia, saya akui permainan ini menyenangkan, bahagia untuk hal yang saya sendiri tidak tahu dari mana dan apa yang membuatnya begitu hebat dan begitu melekat, bahkan hingga saat ini. Hingga pada suatu titik saya bertanya pada diri saya sendiri ‘apa yang saya inginkan?’, ‘apa yang saya cari selama ini?’, ‘apa yang harus saya lakukan?’. Pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak, tapi belum ada jawaban pasti yang mampu menghentikan. Mengapa Tuhan menenggelamkan saya begitu dalam, dengan cara yang begitu lembut. Tuhan memberi saya hidup dan merasakan kebebasan, tapi dengan lembutnya saya dituntun ke tempat yang bahkan saya sendiri tidak tahu ini apa. Terikat oleh tali yang saya rajut sendiri. Saya merasa tersesat, tapi dijalan yang begitu lurus, rapi dan nyaman. ‘Saya diciptakan dengan baik, dengan kesungguhan oleh Tuhan, saya sempurna, tak kurang suatu apapun’, itulah sebait kata yang selalu ada dalam benak untuk menunjukan rasa syukur yang bisa terus saya ingat saat saya terperosok keraguan dalam menjalani hidup, dan memilih bertahan untuk tetap percaya bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, selalu ada kekosongan, entah itu secara kasat mata atau bahkan yang hanya bisa disentuh oleh mata jiwa. Kekosongan yang hanya bisa isi oleh rasa ikhlas atau oleh Tuhan. Tempat yang selalu kosong yang hanya memiliki 2 penghuni. 
Manusia memang sempurna, sempurna dalam ketidaksempurnaannya, mungkin itulah alasan Tuhan mengajarkanku untuk terus belajar memahami hidup. Itu juga yang sering saya dengar dalam perjalanan. Seperti botol kosong yang berdiri tegak, selalu butuh seseorang untuk mengaliri diri ini dengan kesempatan-kesempatan, oleh mereka yang juga memiliki awal, yang memiliki seribu tanya, yang akan selalu ada mengapa dalam setiap lembar kisahnya. Untuk saling melengkapi. Tuhan perlahan mendewasakanku, dan hebatnya, Tuhan melakukannya tanpa bertatap muka. Tuhan begitu mampu membuat saya berpikir akan hal-hal yang awalnya saya kira hanya akan didapat dari mereka yang berjuang bersama saya, dari keluarga, dari malaikat-malaikat yang mengikatku dengan erat meski tanpa tali. Keyakinanku semakin bertambah, tali itu bahkan semakin kuat. Tuhan telah mengajarkanku dalam kemisteriusannya. Ia ternyata telah mengetuk pintu itu. Pintu diruangan kosong. Menitipkan pesan bahwa berfokus pada mengapa dan tidak dari-Nya hanya akan membuat saya berjalan mundur, menjauh dan tersesat dari ya yang Tuhan janjikan. Karena terkadang tidak semua mengapa memiliki jawaban. Terus mengajukan pertanyaan hanya akan membuat saya diliputi lelah yang tak berkesudahan, namun bagaimanapun jawaban untuk setiap pertanyaan memang harus ditemukan. Saya hanya harus menjalani setiap detik kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, karena mungkin itulah cara teraman dalam permainan ini. Entah dalam perjalanan nanti saya bertemu kerikil, tertusuk duri, tersesat, terseret ombak, terhantam angin yang membuai nyaman. Saya biarkan Tuhan memainkan perannya, Tuhan tidak sekejam itu membiarkan saya yang Ia ciptakan dengan kesungguhan, dipilih dari milyaran yang lain dan bertahan sejauh ini, berhenti hanya karena hal yang konyol, kalaupun saya pada akhirnya harus berhenti dari permainan ini, alasan itu harus hebat, batu yang menindih harus lebih besar dari kuasa Tuhan yang menciptakan. Malaikat dalam diri harus bertarung hingga titik terakhir. Karena saya yakin malaikat yang Tuhan titipkan menjaga ruang kosong ini dengan baik, dengan hebat, karena pada dasarnya tidak ada hal yang tidak hebat dari Tuhan. Saya hanya perlu menerimanya, mengenalnya, memahaminya, mendalami, melatih dan mensyukurinya, karena malaikat itu terus bersama saya, ia ada karena saya ada. Selalu ada alasan atas segala yang Tuhan tetapkan. Belajar dan pahami. Saya hanya perlu menyenangkan Tuhan. Sampai waktunya Tuhan datang kembali, malaikat harus menjaga ruang kosong itu agar tidak disinggahi debu-debu.

Malaikat itu..
Bekal terbaik dari Tuhan untuk saya sampai saat ini mungkin adalah keyakinan bahwa Tuhan selalu melakukan dan memberikan yang terbaik. Keyakinan yang seringkali diguncang oleh keraguan. Karena terkadang cara Tuhan sulit untuk saya bisa pahami. Bagaimana saya bisa memenangkan permainan, jika saya belum mengenal sosok dibalik semua ini?. Cara-Nya yang beragam, tetapi selalu mengesankan, seperti biasanya. Saya mengarahkan pikiran untuk terus lurus tanpa harus menoleh kesisi, agar tidak tergoda disetiap persimpangan. Menoleh hanya sesekali, karena dalam berlari, apa yang ada didepan jauh lebih penting dibandingkan gemuruh suara yang mengiringi setiap detak kaki yang bergerak. Jika letih,- (bersambung)



4.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: malaikat itu..)

berjalanlah sesekali sambil menikmati apa yang Tuhan suguhkan disetiap perjalanan menjadi hal terbaik yang bisa dilakukan. Sisi-sisi lain permainan yang akhirnya saya sadari bisa meneduhkan dikala keteguhan mulai teriris perlahan oleh tempaan proses. Layaknya oase di padang tandus Hindustan yang haus aliran Gangga tanpa batas. Aliran yang hanya berbatas pada rasa bosan dan sepi. Perjalanan yang mulai disadari penuh dengan tanggung jawab, membuat lelah. Melahirkan kembali rasa yang dulu pernah dibuang jauh, kini mencoba kembali ke dalam benak. Mengoyak kembali sendi-sendi hingga menjalar dalam nadi. Sulit untuk dihindari, tapi sangat mungkin untuk dipermainkan. Keraguan yang menjadi kesulitan terbesar dalam permainan ini, sejak awal bahkan. 
Permainan tanpa tantangan apalah artinya. Seperti karang yang didebur ombak di pantai yang menjulur indah ditepian, semakin banyak hal baru yang saya temui, disemakin panjang perjalanan, semakin kuat dan kokoh pula benteng yang Tuhan bangun, namun harus saya jaga sampai akhir. Tuhan selalu punya seribu cara membuat saya begitu terkesima dan namun sebanyak itu pula saya tersesat dalam tanya akan segala tingkah laku-Nya. Tuhan yang selalu penuh teka-teki. Kadang seperti anak kecil yang begitu ingin dimanja, ingin dituruti segala keinginan-Nya. Bermain bersama para malaikat dengan asyiknya menjadi hal yang sudah biasa. Begitu berbeda saat keseriusan menyentuh-Nya, Ia begitu dewasa, penuh kebijaksaan, berdiri tegak didepan setiap malaikat yang Ia pilih, saat semua perlahan melangkah mundur, memilih menjauh. Dia yang tidak pernah pergi. Dialah abu-abu yang paling berwarna. Membuat saya merasa begitu beruntung. Saya berharap Tuhan bersama saya sampai ujung permainan. Menunjukkan sisi-sisi Nya yang lain, yang belum pernah saya lihat.

Untuk menjalani permainan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan dan tidak terduga, Tuhan pasti sudah menyiapkan hal-hal terbaik untuk bisa bertahan dalam permainan. Karena yang datang dari-Nya adalah sempurna. Tuhan menitipkan malaikat-malaikat yang begitu kuat, terlatih untuk jatuh, dan begitu ramah untuk setiap keadaan tersulit yang menyapa. Salah satunya yang ikut berjuang bersama dengan langkah kaki yang saya jejakkan. Tanpanya, saya mungkin hanya seonggok tulang berlapis daging yang tipis. Dialah yang membuat saya hidup. Permainan ini hebat, maka Tuhan tidak akan mengutus malaikat-malaikat prototype untuk bermain. Semua harus dalam keadaan terbaiknya. Dalam permainan ini akan ada banyak tanjakan-tanjakan curam, jalan menurun yang berliku dan licin, yang harus mampu ditempuh, untuk saat-saat tersulit sekalipun: sendirian. Malaikat yang diciptakan untuk mampu bertahan dalam kondisi terinjak,tenggelam,terjatuh bahkan tersayat. Malaikat yang menjadi bagian terbaik dan terhebat dalam permainan ini sudah Tuhan siapkan. Malaikat-malaikat yang akan saling melengkapi dan membuat permainan ini menjadi semakin seru. Saya sebagai salah satu pemain menghadapi begitu banyak tantangan, beruntunglah saya disisipi salah satunya, dan saya yakin dia yang terhebat. Jiwa yang Tuhan kirim untuk menjaga saya dalam permainan ini, adalah yang tertangguh, yang terpilih dari milyaran. Malaikat itu dikenal dengan sebutan Fatih. Saya bisa merasakan kehadirannya, energi dan semangat seorang pejuang mengalir dalam aliran darah. Begitu membara. Saya akan membiarkannya seperti ini hingga permainan selesai. Apapun yang terjadi. Berjalan mundur bahkan menyerah tidak ada dalam daftar pilihan permainan ini. Jiwa itu harus tetap berjalan, bahkan berlari. Tak ada ruang untuk berhenti.



Kekalahan Pertama
Lembar kisah terus berlanjut dengan segala warna yang menghiasinya, lembaran demi lembaran baru tersusun rapi. Banyak cerita yang terlewati tertuang dalam setiap goresan. Saya menuliskan bagian saya dengan tebal dan jelas. Agar Tuhan dapat membacanya lebih lama. Agar Tuhan lebih mengenal fatih lebih jauh. Saya sediakan ruang yang juga luas untuk Tuhan menuliskan bagian nya dengan manis dengan teka-teki-Nya, agar saya juga bisa lebih akrab menyapa nya nanti. Agar lebih mengenal, agar lebih sayang. Tuhan memainkan perannya dengan bijak. Dialah yang maha bijak dari segala raja dalam permainan ini. Membuat saya bersemangat  untuk terus belajar lebih mengenal-Nya dan permainan ini. Dengan segala keterbatasan, saya akan lakukan yang terbaik. Saya sadar waktu tidak akan berhenti hanya karena saya tidak mau memulai. Kepingan ini terlalu banyak, terlalu luas. Namun bukan berarti tidak bisa disatukan. Saya hanya perlu memulainya. Kalau saya tidak memulai, kondisi yang akan menyeret saya tanpa ampun, dan saya tidak mau hal itu terjadi. Rumit tapi penuh dengan tantangan. Logika menyeret untuk tidak masuk lebih dalam, namun jauh didalam sana, ada pergolakan hebat. Pertarungan diteras ruang kosong. Saya harus tahu lebih banyak sebelum memindahkan kaki ke dahan yang lain. Dahan yang lebih tinggi agar sampai kepuncak. Dan akhirnya, saya memutuskan untuk masuk. Logika itu tidak cukup kuat melawan perasaan terhadap Tuhan. Perasaan yang belum jelas apa bentuknya. Akan saya buat semenarik mungkin.  




Langit mulai mengganti lembarannya yang baru. Pagi memulai hari nya dengan cerah. Menandakan seakan semuanya akan berjalan baik, namun ternyata berjalan sebagaimana seharusnya. Hari ini tidak benar-benar tidak seperti apa yang saya rasakan saat ini. Melewati perjalanan yang cukup panjang dengan semua embel-embelnya yang terseret, berjalan walau tertatih hingga sampai dititik ini membuat saya ingin beristirahat lebih lama, menyandarkan punggung yang dibebani oleh ribuan kilo tanggungjawab. Saya ingin menikmati kesunyian yang dingin. Keadaan yang nyaman ini ingin saya lewati lebih lama. Semoga malaikat dalam diri bisa kembali seperti yang awal saya mengenalnya. ‘Ah nikmatnya!’ selasar kata yang ada dalam pikiran saya saat itu. Saya tidak mau ini berakhir. Bergeser kesana- kemari menyisir setiap sudut hingga hal-hal yang tidak pernah terlihat sebelumnya. Menggoyangkan kaki sembari bersenandung, hingga akhirnya terhenti pada satu titik. Dinding-dinding kokoh nan tinggi, terlihat terlihat jauh lebih besar dari biasanya. Letaknya di ujung ruangan tempat saya terbaring memainkan kaki ke atas dan kebawah menikmati hentakan busa yang tebal. Titik dimana perhatian saya tercuri beberapa saat. Tembok itu mengalungkan persegi daftar penunjuk sisa waktu dalam permainan di pundaknya, menunjukan angka yang telah berganti kelekukkan ke bentuk yang jauh lebih manis dan jam pasirpun terus mengalir. Teryata waktu terus berjalan tanpa saya sadari. Perlahan merubah semuanya. Sedangkan saya merasa semuanya belum ada yang berubah, masih seperti terakhir kali mata saya meninggalkan jejaknya. Hal ini sontak membuat saya bertanya-tanya dalam hati,’apakah ini bagian dalam permainan?’. Kata-kata tak- (bersambung)

5.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: kekalahan pertama)


pantas mulai bergumul dalam pikiran saya. Angka itu tak selugu bentuknya. Angka itu menyadarkan saya tentang apa yang telah saya lewatkan, tentang semua hal yang terjadi, tentang aturan permainan yang tidak mengijinkan saya untuk mundur. Saya mulai mengingat tentang adanya aturan itu. Inikah hal yang paling berharga dalam permainan?, tapi bagaimana mungkin. Itu bukanlah bagian dari saya. Ternyata saya lah yang menjadi bagian terkecil darinya, yang jika ia lenyap, maka saya hanya sejarah. Hal yang tidak bisa saya mohonkan terhadap Tuhan untuk dikembalikan. Hal tak kasat mata yang Tuhan ambil saat itu juga, setelah saya melaluinya. Hal yang memberi begitu banyak tanpa pernah meminta, ia datang kemudian pergi. Tanpa tegur sapa. ‘Ah, inikah kekalahan pertama saya?’ Ia merenggutnya tanpa kompormi. Semudah itu kah kekalahan dalam permainan ini didapat. Pagi ini tiba-tiba menjadi begitu gelap. Langit memang terliahat begitu biru, begitu cerah tapi jauh didalam sana, ada hitam yang bergumul karena kehilangan hal yang tidak akan pernah kembali. Kecewa karena merasa kalah. Bertarung tanpa tumpahan darah tapi lukanya begitu dalam. Mungkin itulah yang Tuhan tugaskan untuknya dalam permainan ini. Hal terduga ini, yang saya anggap hanya hal terkecil dalam sebuah permainan bisa membunuh saya dalam sekejap karena terkejut. Adakah hal-hal tak terduga lainnya yang Tuhan siapkan di dahan berikutnya?



Tropi Kosong 



Waktu mengajarkan tentang banyak hal. Tentang hal-hal yng tidak disadari sebelumnya, diungkapnya begitu keras, menampar sampai berbekas. Pelajaran-pelajaran yang nampak tidak hanya  didepan mata, tapi untuk melihatnya lebih dalam memerlukan energi pikiran yang lebih dahsyat. Cahaya yang lebih terang untuk menyinarinya. Saya dan malaikat dalam diri harus bekerja sama untuk menghadapi tantangan terbesar ini. Saya tak bisa mengalahkan nya sendirian. Semangat harus lebih besar. Seperti pondasi yang lebih besar menopang tiang yang menjulang ke atas Tak ada lagi kerunTuhan. Jangan lagi ada kekalahan. Kobaran semangat yang menyambar-nyambar untuk memulai menajdi bukti bahwa saya siap untuk menang. Saya akan buktikan kepada Tuhan bahwa saya dikirimkan untuk itu, untuk memenangkan permainan ini. Menuliskan sejarah saya dalam permainan dengan tidak ada lagi lilitan benang-benang kusut dalam lembaran. Malaikat dalam diri ikut bersiaga. Hari ini tidak akan lagi seperti kemarin atau lusa, hari ini harus lebih baik. Beruntunglah malaikat dalam diri merasakan semangat itu. Malaikat yang ada dalam diriku tidak pernah menyia-nyiakan setiap pelajaran yang ada. Ia melahap setiap potongan peristiwa dan situasi. Ia menjadi begitu rakus. Tak menyia-nyiakan lagi kesempatan. Ia belajar lebih dalam lagi mengenal aroma dan wangi-wangian disetiap potongnya. Pahit, asam, manisnya setiap potongan ia pelajari hingga ia mengerti. Ia memahami bahwa setiap lembar peristiwa itu memiliki rasa, rasa yang berbeda. Saya berpikir bahwa saat saya dan ia mengetahui banyak hal, akan lebih mudah menghadapi setiap tantangan. Melatihnya setiap waktu, hingga saat itu datang, kami tidak lagi terkejut, kami sudah siap. Permainan ini penuh tanda tanya, menurut saya itulah cara terbaik mengetahui setiap bagian yang ada, meski harus tercekik rasa pahit sekalipun. Karena kami sadar perjalanan itu masih panjang, setiap detik, setiap jengkal, harus ia pahami, agar tidak ada lagi penyesalan. Situasi permainan terus berubah. Waktu silih berganti datang dan pergi. ‘Saya tak boleh kalah lagi’ ucap malaikat dengan tidak pernah bosannya menyemangati diri. Meskipun banyak kekalahan yang telah saya dapat diawal, saya pastikan bahwa saya akan memenangkan permainan ini, dengan manis. Saya akan mengangkat dagu  diakhir permainan. Menyunggingkan senyuman sambil melambaikan tangan. Ya, permainan ini menjadi semakin seru. Akan ada lebih banyak kemenangan yang tercatat dalam sejarah. Kemenangan yang terlihat kosong tapi sangat berkesan. Pemenang tanpa pecundang. Yang ada hanya ego yang dikuasai. Ego yang berhasil dikendalikan. (bersambung)

6.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: tropi kosong)


Namun sesungguhnya tidak ada kemenangan yang kosong, meskipun tanpa tropi megah menyimbolkan. Kemenangan dalam logika yang hanya berbatas bentuk, sedang kemenangan harusnya tak memiliki batas. Menang selama anda bisa merasakannya dalam diri. Langkah pertama untuk melawan ego-ego lain dalam malaikat-malaikat pemain lain. Akan lebih mudah menghadapi pemain-pemain lain, menghadapi kejutan-kejutan dari Tuhan, saat saya telah siap dengan diri saya, saat saya menang melawan ego dalam diri. Mengendalikan ego yang selama ini mengekang malaikat untuk bergerak. Selama saya mampu dengan usaha yang saya lakukan melawan bercak didinding ruang kosong, disitulah saya merasa menang, dan harus terus seperti itu. Kemenangan pertama yang menjadi pengobar, penyulut semangat  untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Cahaya yang semakin terang 
Jiwa-jiwa itu menjadi murung, entah hal apa yang ia telah lalui, entah sejauh mana benangnya menjulur, entah serumit apa keterikatan benang yang akhirnya terbentuk, tapi berhasil membuat sebuah cahaya perlahan meredup. Warna itu memudar. Perlahan tak lagi menampakan bentuknya. Jiwa itu memanggil tanpa suara. Tak terdengar tapi begitu terasa menarik diri agar lebih mendekat dan lebih dekat. Jari-jari Tuhan menghubungkan kita. Lagi-lagi tuhan menunjukan sisi-sisi-Nya yang lain. Memunculkan perasaan yang pernah saya rasakan sebelumnya, namun getarannya berbeda. Sebelumnya tidak sehebat ini. Entahlah, saya masih harus banyak belajar akan memahami ini. Terlalu banyak mengapa dipikiran saya, dan saya perlu memilihnya satu-persatu untuk dilepaskan. Mengurai benang yang kusut dalam pikiran terlebih dahulu. Ruang ini terlalu gelap. Butuh cahaya walau hanya setitik unutk memecah balutan hitam. Permainan ini semakin dalam menguras energi saya. Tak hanya memaksa untuk terus melangkahkan kaki agar tetap seimbang, tapi juga mengharapkan saya dan sang malaikat menyumbangkan pemikiran untuk segala hal yang ada dipermainan. Ya, permainan memang seperti itu, kita memerlukan strategi khusus untuk tetap melaju, untuk tetap bertahan, untuk tetap bisa bermain, agar tahu arah permainan, agar tidak dipermainkan. Mungkin saya terlalu menikmati ayunan jari Tuhan hingga akhirnya melayang ke sisi terlarang, atau dia yang tidak bisa mengikuti alunan ritme jari Tuhan, karena dia belum terbiasa. Mungkin dia pemain baru seperti saya beberapa waktu yang lalu. Atau mungkin ini memang maunya Tuhan. Mengenalkanku kepada malaikat lain yang juga ada disekeliling, tapi saya tidak begitu menyadarinya. Lain kali mungkin saya harus lebih mau peduli untuk lebih tahu. Lebih mau tahu untuk lebih mengenal. Saya tidak memperdulikannya hingga akhirnya terbentur. Benturan ini cukup hebat untuk akhirnya bisa menyadarkan kedua pemain bahwa ada hal yang sedang dan akan mereka hadapi. Benturan yang akhirnya menguhubungkan saya dan dia, menghubungkan benang kita. Meskipun sudah menjadi hal biasa untuk saya menemui hentakan-hentakan semacam ini. Namun setiap perubahan yang saya alami memiliki kesan yang berbeda, itulah yang saya rasakan. Saya takut getaran ini memutus benang harapan untuk terus bercahaya dalam permainan, karena ada saat-saat dimana malaikat kehilangan cahayanya yang tertutup kabut, yang ragu tanpa tiang Tuhan, akhirnya terputus dikikis- (bersambung)

7.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


ketidakpedulian. Seperti pagi yang membutuhkan hembusan angin sejuk agar hari dapat memulaikan langkahnya menghidupi ribuan malaikat. Keadaan-keadaan yang terus berubah, mengikuti alur-Nya. Saya tidak bisa memilih situasi seperti apa yang akan saya hadapi, memilih untuk pasrah kemudian terbenam dan mati, atau bertahan dan mencari jalan keluar disetiap keadaan. Menyelesaikannya hingga akhir. Akhir permainan yang sebenarnya.

Getaran ini semakin lama semakin kuat, semakin cepat. Makin lama makin menghawatirkan. Jika saya tidak bisa mengontrolnya, benang saya akan terputus. Mungkin miliknya juga akan terputus. Akan ada malaikat yang redup cahayanya secara perlahan dan mati untuk selamanya. Permainannya selesai sampai disini. Harus ada perjuangan untuk bisa bertahan. Saya harus bertahan. Saya yakin malaikat saya mampu. Tapi dia mungkinkah mampu bertahan?  Mungkinkah dia bisa menahannya lebih lama? Ia tidak terlihat demikian. Ia butuh dorongan. Sokongan cahaya yang lebih kuat. Saya memutuskan untuk melilitkan benang yang menopang agar lebih kuat mengikat. Saya berharap bisa saling menguatkan. Meningkatkan energi cahaya agar ia yang hampir jatuh menuju dasar yang gelap, bisa lebih terlihat. Menyelamatkan cahaya dan waktu. Saya mengambil resiko terberat dalam permainan: menuju dasar yang gelap kemudian mati. Saya mengerahkan seluruh energi untuk malaikat yang saya sendiri belum mengenalnya dengan jelas. Tapi saya berpikir bahwa ini tentang saya dan ujian yang sedang saya jalani. Tentang bagaimana saya menuliskan semua jawaban yang terlampir dipikiran dalam secarik lembar. Namun dia, entah bagaimana ia menyelesaikan ujiannya saat ini, itu urusannya dengan Tuhan. Itu diluar kendaliku.

Cahaya itu semakin terang. Sudut-sudut yang tadinya gelap tanpa lekuk. Sunyi dalam kediamannya. Saat ini mulai terlihat bergoyang mengikuti alunan cahaya yang menghujaninya. Cahaya yang entah sampai kapan bertahan. Lorong ini terlalu luas untuk diterangi seluruhnya. Butuh dihujani cahaya yang lebih besar untuk bisa terlepas dan naik ke atas. Cahaya untuk menerbangkan 2 malaikat tak bersayap. Saya butuh sumber cahaya tambahan agar kami bisa bertahan lebih lama. Kami saling menatap. Mencoba berkomunikasi dalam kebisuan. Cahaya ini cukup menyinari wajahnya yang nampak suci. Wajah penuh kebingungan dan aliran air ketakutan, yang menghamba untuk sebuah harapan baru. Rupa yang mampu menimbulkan perasaan itu. Perasaan yang menjadi sumber cahaya dalam diri. Perasaan yang lama-kelamaan menguat. Cahaya itu menyusuri lebih luas, lebih dalam. Ia berhasil menyulut energi-energi baru. Energi yang belum saya rasakan darinya, yang ia belum bersedia membaginya, bahkan disaat-saat seperti ini. Saya harus menyulut energinya. Saya harus melakukan sesuatu untuk membuatnya bercahaya. Tapi apa dan bagaimana memulainya. Masihkah ada waktu untuk saya berfikir disaat-saat seperti ini?. Hal ini menjadi semakin rumit. Cahaya ini memang semakin luas menyinari tapi entah sampai kapan akan bertahan, saya juga tidak tahu. Yang saya tahu hanya satu hal  bahwa benang ini semakin melepaskan ikatanya, semakin merenggang. Sentuhan lembut akan membuatnya terputus. Kami butuh keajaiban. Cahaya keajaiban yang harus muncul sebelum benang-benang ini  benar-benar mengakhiri semuanya.
Cahayanya meredup. Benang ini semakin menjulur, semakin merenggang. Dia yang selama ini saya pertahankan akhirnya meredup perlahan. ‘Hei, bertahanlah! Bertahan sedikit lagi’ bisik yang- (bersambung)

8.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


saya lemparkan kepadanya tanpa jawaban. Hanya tundukan kepala yang terlihat. Saya menariknya perlahan untuk lebih dekat. Selembut mungkin agar gesekan itu tidak membahayakan. Saya mengerahkan semuanya. Menariknya terus hingga lebih dekat. Saya lupakan aliran darah yang membasahi tangan. Saya lupakan semuanya. Hanya dia titik yang harus saya perhatikan.  Hanya dia yang ada dikepala saya saat ini. Dialah satu-satunya yang terlihat. Peluh dan tangis itu telah bercampur. Mengalir hingga tak terlihat lagi.

Hal aneh mulai terjadi. Ada energi muncul. Energi yang tiba-tiba berkobar dalam diri saya. Energi yang membuat saya lebih bercahaya. Membuat wajah itu mulai menunjukan bentuknya. Wajah yang tadi disembunyikan oleh gelapnya permainan. Kini saya melihatnya. Wajah malaikat yang sedang saya perjuangkan. Akhirnya saya melihat wajah itu. Terlihat payah. Wajah itu ingin mengatakan sesuatu. Terlalu kaku lidah untuk menari. Terlalu sesak nafas. Air itu mengalir lebih deras. Dekapan itu akhirnya bisa saya berikan. ‘Bangunlah!, Bangun! Kita harus bertahan!’ teriaku dalam gelap kepiluan. Ini terlalu menyakitkan. Tuhan, tidak kah Kau merasa saya terlalu dini untuk merasakan ini semua? Apa yang sedang Kau pikirkan?. Saya menangis sejadinya. Berteriak hingga tak tahu lagi untuk apa saya berteriak. Mendekap hingga air mata itu berurai tak terarah. Pejaman mata yang begitu damai ini membuat segalanya sulit untuk diterima. Saya sangat ingin melihatnya kembali. Saya ingin ia bertahan. Tak lelah pesan ini saya sampaikan padanya. Saya berharap ia tahu. Berharap ia menerima pesan terkahir yang ingin saya sampaikan.

Diri ini semakin lemas dibuatnya, namun tidak dengan cahaya ini. Cahaya yang perlahan semakin meluas. Menyinari seluruh tubuh ini. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya merasa buntu. Inikah akhir dari bagian ini? Saya merasa ini sangat berat untuk dilalui. Saya tak tahu pasti. Saya merasa ini sudah berakhir. Terlalu berat untuk dirasakan. Mulut ini terbungkam. Wajah ini bak setengah mati, tapi bayangan itu malah semakin meluas menyinari. Mana keajaiban itu. Keajaiban yang selama ini saya harapkan. Dimana Tuhan?. Mengapa Tuhan tidak muncul di saat-saat seperti ini. Masihkah berarti jika muncul disaat yang seharusnya semua sudah selesai, karena tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Tidak ada lagi malaikat itu. Benak ini sudah kusut. Cahaya yang bersinar terang ini hanya menunjukan kemuraman dan kemarahan saya akan semua ini. 
Terlalu besar kekecewaan ini. Saya bahkan sudah terlalu lelah untuk mencari tahu sebesar apa. Tapi yang pasti sangat besar. Sangat membekas. Kepedihan yang disinari cahaya. Cahaya yang kini sinarnya mulai terbelah. Menunjukan lekuk-lekuk yang mulai berbayang, mulai bergoyang-goyang. Saya sudah tidak peduli dengan hal-hal itu. Pikiran ini masih menyesalkan keadaan yang terjadi. Tapi cahaya ini. Semakin lama semakin kuat. Saya bisa merasakan energinya. Tapi energi ini bukan dari dalam diri saya. Ini cahaya lain. Tapi dari mana? Inikah cahaya Tuhan? Semakin luas. Semakin nyata. Semakin mendekat. Wajah yang begitu lirih tadi, kini tersenyum, terangnya melebihi apa yang saya bagikan. ‘Dia kembali? Benarkah? Bagaimana bisa?’ terlalu banyak tanya dalam benak. Hal ini membuat saya terkejut. Apakah ia benar-benar kembali?. Mungkinkah ia merasakan perasaan itu?. Saya harap ini bukan proyeksi pikiran saya karena perasaan kehilangan yang begitu besar. Dia mendekat tepat dihadapanku. Ini nyata. Dia kembali. Dia terlihat berbeda. Terlihat jauh lebih baik. Perasaan itu benar-benar menghinggapinya. Sunggingan senyumnya bahkan lebih bercahaya dari apa yang ia sebarkan. Mungkinkah dia juga merasakan apa yang sedang saya rasakan. Perjuangan itu benarkah dia rasakan?. Jika melihat dari keajaiban ini. Keajaiban yang begitu ditunggu akhirnya muncul. Sepertinya ia merasakan hal yang sama. Ia merasakan energi terakhir yang saya sampaikan. Energi kepedihan saat -(bersambung)

9.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)

saya lemparkan kepadanya tanpa jawaban. Hanya tundukan kepala yang terlihat. Saya menariknya perlahan untuk lebih dekat. Selembut mungkin agar gesekan itu tidak membahayakan. Saya mengerahkan semuanya. Menariknya terus hingga lebih dekat. Saya lupakan aliran darah yang membasahi tangan. Saya lupakan semuanya. Hanya dia titik yang harus saya perhatikan.  Hanya dia yang ada dikepala saya saat ini. Dialah satu-satunya yang terlihat. Peluh dan tangis itu telah bercampur. Mengalir hingga tak terlihat lagi.

Hal aneh mulai terjadi. Ada energi muncul. Energi yang tiba-tiba berkobar dalam diri saya. Energi yang membuat saya lebih bercahaya. Membuat wajah itu mulai menunjukan bentuknya. Wajah yang tadi disembunyikan oleh gelapnya permainan. Kini saya melihatnya. Wajah malaikat yang sedang saya perjuangkan. Akhirnya saya melihat wajah itu. Terlihat payah. Wajah itu ingin mengatakan sesuatu. Terlalu kaku lidah untuk menari. Terlalu sesak nafas. Air itu mengalir lebih deras. Dekapan itu akhirnya bisa saya berikan. ‘Bangunlah!, Bangun! Kita harus bertahan!’ teriaku dalam gelap kepiluan. Ini terlalu menyakitkan. Tuhan, tidak kah Kau merasa saya terlalu dini untuk merasakan ini semua? Apa yang sedang Kau pikirkan?. Saya menangis sejadinya. Berteriak hingga tak tahu lagi untuk apa saya berteriak. Mendekap hingga air mata itu berurai tak terarah. Pejaman mata yang begitu damai ini membuat segalanya sulit untuk diterima. Saya sangat ingin melihatnya kembali. Saya ingin ia bertahan. Tak lelah pesan ini saya sampaikan padanya. Saya berharap ia tahu. Berharap ia menerima pesan terkahir yang ingin saya sampaikan.

Diri ini semakin lemas dibuatnya, namun tidak dengan cahaya ini. Cahaya yang perlahan semakin meluas. Menyinari seluruh tubuh ini. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya merasa buntu. Inikah akhir dari bagian ini? Saya merasa ini sangat berat untuk dilalui. Saya tak tahu pasti. Saya merasa ini sudah berakhir. Terlalu berat untuk dirasakan. Mulut ini terbungkam. Wajah ini bak setengah mati, tapi bayangan itu malah semakin meluas menyinari. Mana keajaiban itu. Keajaiban yang selama ini saya harapkan. Dimana Tuhan?. Mengapa Tuhan tidak muncul di saat-saat seperti ini. Masihkah berarti jika muncul disaat yang seharusnya semua sudah selesai, karena tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Tidak ada lagi malaikat itu. Benak ini sudah kusut. Cahaya yang bersinar terang ini hanya menunjukan kemuraman dan kemarahan saya akan semua ini. 
Terlalu besar kekecewaan ini. Saya bahkan sudah terlalu lelah untuk mencari tahu sebesar apa. Tapi yang pasti sangat besar. Sangat membekas. Kepedihan yang disinari cahaya. Cahaya yang kini sinarnya mulai terbelah. Menunjukan lekuk-lekuk yang mulai berbayang, mulai bergoyang-goyang. Saya sudah tidak peduli dengan hal-hal itu. Pikiran ini masih menyesalkan keadaan yang terjadi. Tapi cahaya ini. Semakin lama semakin kuat. Saya bisa merasakan energinya. Tapi energi ini bukan dari dalam diri saya. Ini cahaya lain. Tapi dari mana? Inikah cahaya Tuhan? Semakin luas. Semakin nyata. Semakin mendekat. Wajah yang begitu lirih tadi, kini tersenyum, terangnya melebihi apa yang saya bagikan. ‘Dia kembali? Benarkah? Bagaimana bisa?’ terlalu banyak tanya dalam benak. Hal ini membuat saya terkejut. Apakah ia benar-benar kembali?. Mungkinkah ia merasakan perasaan itu?. Saya harap ini bukan proyeksi pikiran saya karena perasaan kehilangan yang begitu besar. Dia mendekat tepat dihadapanku. Ini nyata. Dia kembali. Dia terlihat berbeda. Terlihat jauh lebih baik. Perasaan itu benar-benar menghinggapinya. Sunggingan senyumnya bahkan lebih bercahaya dari apa yang ia sebarkan. Mungkinkah dia juga merasakan apa yang sedang saya rasakan. Perjuangan itu benarkah dia rasakan?. Jika melihat dari keajaiban ini. Keajaiban yang begitu ditunggu akhirnya muncul. Sepertinya ia merasakan hal yang sama. Ia merasakan energi terakhir yang saya sampaikan. Energi kepedihan saat -(berambung)

10.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: cahaya yang semakin terang)


saya kehilangan dia. Perjuangan itu membuatnya bertahan. Ia menerima energi itu. Energi yang membuat dia akhirnya bertahan dan mulai memahami bahwa ada malaikat lain yang percaya ia mampu bercahaya. Ada malaikat yang peduli atas kehadirannya dan merasa terluka saat ia pergi. Perasaan yang menyulut energi luar biasa. Cahaya yang akhirnya menunjukan bahwa ia tidak mau jatuh, ia peduli dengan dirinya. Untuk cahayanya agar tetap terang, dan untuk cahaya saya yang tetap bertahan untuknya sampai sejauh ini. Tidak ada hal yang paling membahagiakan dibandingkan perasaan ini. Pengorbanan yang dilakukan agar cahaya yang dititipkan Tuhan tidak redup begitu saja tanpa dilapisi perjuangan. Pertemuan yang telah di setting oleh Tuhan dengan caranya yang lagi-lagi sulit dipahami logika, namun begitu terasa dalam dan menyentuh hati. Dada yang menjadi sesak karenanya. Permainan Tuhan yang penuh dengan hal-hal mengejutkan. Resiko menjadi tangga disetiap ruang yang saya lalui dalam permainan ini. Karena setiap permainan memang beresiko. Agar kita berjuang sampai titik akhir. Agar ada titik yang lebih tinggi dapat dipijakkan. Hingga kita benar-benar tidak lagi punya energi. Tidak ada lagi cahaya. Ini pelajaran baru dari Tuhan. Dengan caranya amat sangat tidak lucu, tapi pada akhirnya membuat saya bangga setiap kali saya mengingatnya.

Bukankah dari awal Tuhan hanya menentukan start tempat kita memulai? Entah dari lantai berapa kita memulai, entah berjalan merangkak atau berlari, entah sendiri atau bersama-sama, entah jalan mana dan bagaimana saya sampai finish, itu kuasa yang Tuhan berikan pada semua pemain. Akan banyak malaikat yang kita temui setiap tangga yang kita naiki. Dan dialah orang yang Tuhan pertemukan dipersimpangan jalan yang saya lalui. Yang kukenal sebagai Nara. Saya harus mengenalnya sebelum saya bagikan. Mengenalnya lebih dalam. Entah ini sebuah keberuntungan atau sebaliknya tapi inilah bagian abu-abu dari Tuhan yang tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi misteri. Tuhan tahu semua hal yang terjadi pada saya dan dia, itu cukup melegakan. Terlepas apakah ini akhir dari kami atau bukan, namun jika Tuhan sekejam itu, kami siap mengakhiri permainan ini, tapi jika Tuhan hanya menguji kami, dan ini merupakan caranya yang lain untuk mengenalkan kami satu dengan yang lain, kuharap caranya akan lebih Ia perhalus. Saya menantangnya dalam hal ini. Saya mencoba menantang Tuhan diatas kepedulian. Apakah ia peduli terhadap malaikat-malaikatnya ini? Seperti halnya kami yang belajar untuk menjaga kepedulian itu. Kepedulian yang harusnya dipupuk, dijaga, karena hubungannya yang begitu erat dengan perasaan, yang kadang kala menyisihkan logika di selasar. Karena terkadang kita membela mati-matian hal yang tidak bisa diterima akal hanya kita peduli. Kepedulian yang hanya punya satu sisi. Semakin bercahaya saat energinya dilepas. Semakin menguatkan saat dibagikan.


Abu-abu Yang berwarna

Setelah apa yang terjadi, sulit rasanya untuk tidak marah pada Tuhan. Dengan kuasa-Nya, Ia bisa saja mengirim ya-Nya tanpa ada darah dan kekecewaan. Saya merasa begitu sakit. Nara mungkin juga merasakan hal yang sama. Apakah Tuhan merasakan kepedihan yang sama?. Saya yakin Tuhan juga tersentuh. Tapi mengapa Ia membiarkan ini terjadi. Tidak bisakah ia mencegahnya untuk terjadi?. Hari itu semua berjalan lebih lama dari biasanya. Langkah terasa lebih berat untuk ditapaki. Tangga menjadi lebih tinggi. Puncak itu nampak lebih sulit untuk ditaklukan. Mengingatkan saya akan peristiwa 8 Oktober satu dekade silam. Hari itu, malam menajalankan tugasnya dengan begitu baik. Sepi. Teduh dan gelap. Hanya ada cahaya-cahaya lampu dipermukiman yang terlihat. Bulan terlalu malu untuk menampak kan pesonanya yang menakjubkan. Langit malam ini terasa begitu polos. Hanya tapak kaki mengiringi sepinya malam. Seakan memberikan nyanyian yang merdu melengkapi suasana temaram kala itu. Hentakan kaki yang berat itu semakin lama semakin kerasa terdengar. Memecahkan keheningan yang begitu mendamaikan. Malam itu salah satu malaikat tercantik dalam permainan turun dari khayangan. Malaikat yang selalu mendamaikan perasaan saya saat malaikat dalam diri terlalu lelah berjuang. Dia berhasil masuk dan bertahan didalam pikiran saya. Saat semua datang dan hanya mengetuk pintu. Dia yang terbaik. Shuva sedang dalam masa terbaiknya sebagai malaikat. Banyak hal yang pasti ia telah lewati. Ia bermain jauh sebelum saya terjerat dalam permainan  ini. Ia memulainya dan bertahan sampai saat ini. Ia tumbuh begitu anggun, dewasa. Ia mengajarkan saya banyak hal tentang permainan ini. Ia menjadi bagian terbaik dalam permainan ini bagi saya pribadi.

Shuva datang untuk berkunjung, bercengkrama dengan malaikat-malaikat yang lama telah ia tinggalkan. Permainan ini membolehkannya untuk berjuang dengan malaikat lain yang ia pilih. Saat ia merasa kematangan jiwa sudah ia raih sepenuhnya. Yang sampai saat ini saya belum dapatkan. Saya sedang berusaha untuk itu. Kebebasan lain dari permainan ini. Kejutan yang lama-kelamaan menjadi hal biasa. Dan sekarang ia kembali menemui kami. Ia terlihat lebih bercahaya, senyumnya mengatakan itu. Tak hentinya ia melemparkan senyum seraya berjalan dengan tertatih. Perutnya semakin membesar. Ia terlihat begitu lemah, tapi cahayanya menerangi malam ini sampai batas yang mungkin tidak bisa anda bayangkan. Ini terlalu luar biasa untuk diceritakan. Malaikat baru akan segera muncul. Pemain baru akan bergabung bersama kelompok kami. Seperti saya dulu. Akan ada yang memulai perjalanan nya tak lama lagi. Jawaban yang cukup lama saya tunggu dari pertanyaan bagaimana mana saya benar-benar berawal.

Ia datang dengan membawa beberapa kisah untuk dibagi. Bagaimana ia bertahan bersama malaikat pilihannya. Bagaimana Ia merindukan kami yang dulu begitu lama bersamanya. Bercerita tentang letihnya melakukan perjalanan hingga sampai bertatap muka seperti ini. Pembicaraan yang sangat biasa dilakukan, kini terasa begitu spesial. Saat-saat seperti ini membuat saya merasa seperti terlahir kembali. Dia yang sekarang, membawa energi yang lebih besar. Malam ini menjadi lebih hangat, lebih terang dari sebelumnya. Dialah salah satu sumber cahaya dalam diri saya tidak pernah redup.

Malam ini hampir selesai. Hari akan segera beralih ke permulaannya yang baru. Jarum itu menunjuk ke arah 12 dan terus melangkah naik. Ingin sekali saya patahkan atau saya permainkan sebentar jarum yang bergerak itu. Waktu begitu adil dan sempurna memainkan perannya. Tapi saya sadar bahwa tidak ada yang saya lewatkan sampai saat ini. Meski pertemuan dengan shuva masih terasa kurang bagi saya. Saya ingin ia tinggal lebih lama, paling tidak sampai mata saya ini terpejam. Dalam hal ini, kuasa yang saya miliki terbatas. Ada malaikat lain yang menunggunya, dan mungkin ini memang sudah waktunya ia pulang. Kembali ketempat ia seharusnya berada saat itu. Ia pulang meninggalkan bunga yang harum disisi ruang kosong dalam diri saya. Yang akan saya jaga sampai ia kembali.
Jarum yang terkena cahaya itu tidak begitu jelas. Terlalu menyilaukan. Samar terlihat mengarah ke 3.40am saat saya mulai terjaga. Shuva membangunkan saya yang sedang dalam permainan di dimensi yang lain. Ia kembali lagi tapi dengan cara yang berbeda. Ia datang menyiram bunga yang ia tinggalkan dengan sekotak berita tentangnya. Berita yang belum -(bersambung)

Interview, what is that!

Halo!
Selamat sore semua, bagaimana kabarnya?
Bahagia? :D

Oke, jadi sore ini tiba-tiba aja masih kepikiran soal kejadian tadi pagi. Dan bingung mau sharing ke siapa jadi ya daripada disimpan sendiri lebih baik dibagikan dan semoga bermanfaat buat yang baca.

Jadi tadi pagi, actually setiap pagi dikantor itu pasti ada recruitment process, untuk level Lead, Kapten dan Staff. Prosesnya sendiri itu berjalan seperti biasa, normal, tidak ada yang begitu spesifik terjadi. Datang, kemudian tukar ID ke Security Lantai dan isi Registration Form di Laptop yang sudah disediakan. Kemudian menunggu sesuai dengan jadwal yang ditentukan untuk masing-masing kandidat.

Nah seperti biasa, pagi ini itu ada Recruitment Process untuk temen-temen yang bakal bergabung di Operational Team. Proses nya sendiri dalam bentuk Group Discussion. Group discussion itu sendiri terdiri dari beberapa peserta yang sudah dijadwalkan untuk bergabung dihari itu.

Setiap sesi biasnya terdiri dari 5 orang bahkan lebih, makin banyak biasanya makin seru.
Dalam didiskusi tersebut semua kandidat menjadi panelis dan Recruiternya jadi moderator yang akan mimpin jalan nya diskusi. Nah diskusi in apa sih biasanya?

Saat Forum Group Discussion biasanya kita diskusi bareng-bareng soal hal-hal apa aja sih yang biasanya 

Trauma Factors and How to Handle It

2. Cara Mengatasi Trauma
  • Positive Thinking
  • Focus in Present
  • Feel More: Empathy, Forgiving, Sincere
3. Cara Mengatasi Depresi
  • Take a break: sleep, trip, vacation
  • Thankful
  • Sharing
  • Crying
  • Raising a Pet

Stress Factors and How To Deal with It

Situation or Condition that gives you pressure, it comes from outside you or inside, we are usually called Stress. Stressors used to be known as a bad thing, a negative issue that should be ignored or avoided as part of a grueling life, exhausting: in work or in relation.

Unfortunately, things are some unpredictable, you cant barely control everything, facing something you dont really know or mastered of is sometime giving you a pressure, or you have fully control of yourself. You absolutely can turn out the table and face the things differently.

Life is a full package of emotion: Happiness and Sorrow
Kick them!

To solve a thing, first thing you have to do is find the factor:
Ask yourself,"What thing that make me become so emotional?'

There actually 2 line that possibly bring you down:

1. Inside Stressors

- Self Demand
You become so demanding of everything, set the standard too high. When your brain set the standard, in the other way, there are emotion and thought you have to pouring to get it.
You tiring yourself. Set a standard is perfectly good, but should be something that can be measured logically, then emotions follow.

Lack of Self Possession
Rather than anyone in this world, the person that have to appreciate you, your well-being, your existence is you. Yes, Yourself. Every person is perfectly made, note that. As a social creature hopefully aware that other views sometimes is a matter, but we 24 hour know ourself, believe in ourself, dont loose.


2. Outside Stressors

-Malnutrion
Science has of happiness has figured out why certain foods make us happy. It shows have an effect on our mood, such as: Banana, Chocolate, Berries. Good Food, Good Mood, Good Life.

-Evironment
A stressor that are found in our surroundings are called environmental stressor. It can be other person, noise, crowd, disaster or war. Something that comes from other Human or Nature, which make you uncomfortable but you should have to pass it.

You may ready for happiness whenever you breath, but how to deal with the other one?
Here some tips that you may applied to help you helping yourself

1. Listening To Your Favorite Music

It's been well-said on here that listening to music can have a tremendously relaxing effect on our minds and bodies. Musical preference varies widely between individual, so only you can decide what you like and what is suitable for each mood, absorb and doing distraction at the same time. 

Music can have a beneficial effect on physiological function, slowing the pulse and heart rate, lowering blood pressure, and decreasing the level of hormons. It may be worth giving it a try when selecting the most calming music (especially slow rythm, quiet classical music)

2. Laugh

Laugh is the best medicine: fun, free and easy to use. It's have proved in many research that laugh can put people together and trigger healthy physical emotion and in the body: strengthens immune system, boosts mood and defuse conflict.

Laugh can help to relax muscles, lowering blood pressure, and increase the oxygen level in blood.

There some tips that you want to apply in condition you may occurs:

-While driving: Turn on the channel that play light and simple talk or convo that may help to energize you while driving, especially when you drive alone.
-At Home : Rent or current day you can easily download silly or comedy movie genre. Enjoy your Quality time, be happy.
-In The Office : Deadline killing your day? No! never let that ever happen. Simple, deprecating humour is bring you long way to go, especially when you caused a problem or crack a simple joke about the situation, or yourself to relax muslce, if you have more time, play music or watch comedic.


3. Doing exercise: Meditation, Yoga, Jogging, Cycling, Weigh-lifting, Aerobic

When stress affects many nerve connections, the rest of the body feels the impact as well. Exercise produce endorphins. So it one of the great reason why your body feels better, so does your mind. Also improve the ability to sleep, which in turn reduces stress

According to ADAA, about 'How Does Participating in a Sport Relieve Stress', they suggest that playing sports and getting regular exercise can calm your worries and clear your mind,

Some think that stress could be something else. They see differently. The pressure that come can be took as Challenge. .

Time Well Spent

 "Time you enjoy wasting is not a wasting time'



We all realize, at least I myself realize that time is a thing that can only be spent without being refunded, refilled or added.

Everyone gets the same portion, no less, no more: 24 Hours/Day. Many things can be done to make the most of the time. I found 4 Types of 'Spend Time' which, if maximized, you have a perfect life, here's:

Family Time
Place we were made: physically and psycho-logically. Have you home?


Me Time

Ask ourrself,'How much time do i spend to make myself happy, free, calm in a day? a week? or in a month?' . Yes, ask ourself how yw treat ourself as a human being who has to grow by the time. Doing thing without any worry, dong things that completely for ourself. Have you?


Couple Time

It has become a fundamental need of human: recognition and acceptance. As a very first step, we need someone who to help us see how is ourself in another way of view, who can feel our existence, let us be the way we are, accept any best or worse of us. Have you find? Have you enjoy your couple time, in any ways?


Social Time

As a social creature, we do definitely cant live by our self. We can feel handsome when we find ourself in a mirror, it is valid? ask other to prove what we think, that a social life. Half of our time in a day spent for Social Time: Work, hang out, and else.

Some might feel social life, for example Workspace as a 2nd home as they live there a half of their time everyday, so it's very important to know which better for us to stay. Have you find you?


Senangnya Kerja di Tokopedia

Halo! I am Back!
Apa kabar semua, lama tak sua, sudah ada yang baru kah dari kalian?
Sudah? Monggo di share :D
Kali ini gue mau bocorin nih sedikit tentang apa yang lagi hits banget di Tokopedia. Apa itu?
Let's check this out!

Sebagai perusahaan yang hampir semua Nakama nya adalah Millenial Generation yang penuh dengan ide-ide kreatif dan semangat yang tinggi, tentunya banyak hal baru yang kita buat disini. Not only give you the best we have through innovation we create, we try to improve everything, because we not only Focus on Costumer, but also One of Our DNA is Growth Mindset, that's why we let you see our fun-joyful side when we work for you.

Mungkin sebagian dari kalian udh ada yang pernah coba stalk gimana 'kegilaan' para nakama waktu ada dikantor dijam senggang mereka melalui foto yang mereka share di Instagram atau sosmed lainnya. Kalian bisa intip-intip gimana keadaan kantor Tokopedia dimasing-masing divisi.

Melalui tagar #kerjatuhgini #tokopedia #nakama kami mencoba untuk bisa lebih dekat dengan partner kami (customer) dengan cara yang lebih fun.

Dengan membawa tema 'Senangnya kerja di Tokopedia', semoga kesenangan yang kami bawa, bisa juga dirasakan oleh customer kami.
Sudah cek tokopedia belum?


Juice Day!

Jumat 13 Mei 2016, Event Juice Day kembali di gelar oleh si empunya ide (Wiji semok) dan Tim Superrrrrr kecenya (Tim Batmaan). Jika sebelumnya buah yang digunakan yaitu buah Naga dan Alpukat, kali ini lebih bervariasi:  Buah Mangga, Buah Jambu Biji, Buah Melon dan Buah Semangka.

Juice Day merupakan Kegiatan yang digagas oleh Tokopedia untuk mengingatkan semua Nakama nya agar hidup lebih sehat, sehingga nantinya bisa membantu customer dalam membuka peluang untuk orang lain dan diri mereka sendiri.

Juice Day sendiri dimulai awal tahun lalu (tepatnya tanggal berapa, gue lupa hehe sorry) yang pasti dihari yang sama, yaitu hari jumat, dan siap disantap saat jam makan siang sampai jam 4.00 sore (padahal sebelum jam 4 juga udah habis sih hahahaha) yang didistribusikan ke setiap lantai (NewsUpdate: Tokopedia ada 4Lantai Office dan 1Lantai utk Plyaground).

Event ini kembali digelar mengingat respon yang kami terima setelah event yang beberapa waktu lalu, saat event ini pertama kali digelar cukup baik, I'll posts several responses from Nakamas:

"Thank you tokopedia for taking care of our health. XOXO", "It would be nice if orange juice can be served on the next event :)", "We want more... We want more... We want more... :) Thank Tokopedia".  and more..:)

Tokopedia menyadari benar bahwa jiwa yang sehat akan menciptakan pikiran, ide-ide yang sehat (pula).




Playground

Playground

Playground

In Tokopedia TGIF not only means Thank's god it's Friday! but also means, it's Juice Day!
Keep healthy!