pantas mulai
bergumul dalam pikiran saya. Angka itu tak selugu bentuknya. Angka itu menyadarkan
saya tentang apa yang telah saya lewatkan, tentang semua hal yang terjadi,
tentang aturan permainan yang tidak mengijinkan saya untuk mundur. Saya mulai
mengingat tentang adanya aturan itu. Inikah hal yang paling berharga dalam
permainan?, tapi bagaimana mungkin. Itu bukanlah bagian dari saya. Ternyata saya
lah yang menjadi bagian terkecil darinya, yang jika ia lenyap, maka saya hanya
sejarah. Hal yang tidak bisa saya mohonkan terhadap Tuhan untuk dikembalikan. Hal
tak kasat mata yang Tuhan ambil saat itu juga, setelah saya melaluinya. Hal
yang memberi begitu banyak tanpa pernah meminta, ia datang kemudian pergi.
Tanpa tegur sapa. ‘Ah, inikah kekalahan pertama saya?’ Ia merenggutnya tanpa
kompormi. Semudah itu kah kekalahan dalam permainan ini didapat. Pagi ini
tiba-tiba menjadi begitu gelap. Langit memang terliahat begitu biru, begitu
cerah tapi jauh didalam sana, ada hitam yang bergumul karena kehilangan hal
yang tidak akan pernah kembali. Kecewa karena merasa kalah. Bertarung tanpa
tumpahan darah tapi lukanya begitu dalam. Mungkin itulah yang Tuhan tugaskan
untuknya dalam permainan ini. Hal terduga ini, yang saya anggap hanya hal
terkecil dalam sebuah permainan bisa membunuh saya dalam sekejap karena
terkejut. Adakah hal-hal tak terduga lainnya yang Tuhan siapkan di dahan berikutnya?
Tropi
Kosong
Waktu mengajarkan tentang banyak hal. Tentang hal-hal
yng tidak disadari sebelumnya, diungkapnya begitu keras, menampar sampai
berbekas. Pelajaran-pelajaran yang nampak tidak hanya didepan mata, tapi untuk melihatnya lebih dalam
memerlukan energi pikiran yang lebih dahsyat. Cahaya yang lebih terang untuk
menyinarinya. Saya dan malaikat dalam diri harus bekerja sama untuk menghadapi
tantangan terbesar ini. Saya tak bisa mengalahkan nya sendirian. Semangat harus
lebih besar. Seperti pondasi yang lebih besar menopang tiang yang menjulang ke
atas Tak ada lagi kerunTuhan. Jangan lagi ada kekalahan. Kobaran semangat yang
menyambar-nyambar untuk memulai menajdi bukti bahwa saya siap untuk menang.
Saya akan buktikan kepada Tuhan bahwa saya dikirimkan untuk itu, untuk
memenangkan permainan ini. Menuliskan sejarah saya dalam permainan dengan tidak
ada lagi lilitan benang-benang kusut dalam lembaran. Malaikat dalam diri ikut
bersiaga. Hari ini tidak akan lagi seperti kemarin atau lusa, hari ini harus
lebih baik. Beruntunglah malaikat dalam diri merasakan semangat itu. Malaikat
yang ada dalam diriku tidak pernah menyia-nyiakan setiap pelajaran yang ada. Ia
melahap setiap potongan peristiwa dan situasi. Ia menjadi begitu rakus. Tak menyia-nyiakan
lagi kesempatan. Ia belajar lebih dalam lagi mengenal aroma dan wangi-wangian disetiap
potongnya. Pahit, asam, manisnya setiap potongan ia pelajari hingga ia
mengerti. Ia memahami bahwa setiap lembar peristiwa itu memiliki rasa, rasa
yang berbeda. Saya berpikir bahwa saat saya dan ia mengetahui banyak hal, akan
lebih mudah menghadapi setiap tantangan. Melatihnya setiap waktu, hingga saat
itu datang, kami tidak lagi terkejut, kami sudah siap. Permainan ini penuh
tanda tanya, menurut saya itulah cara terbaik mengetahui setiap bagian yang
ada, meski harus tercekik rasa pahit sekalipun. Karena kami sadar perjalanan
itu masih panjang, setiap detik, setiap jengkal, harus ia pahami, agar tidak
ada lagi penyesalan. Situasi permainan terus berubah. Waktu silih berganti
datang dan pergi. ‘Saya tak boleh kalah lagi’ ucap malaikat dengan tidak pernah
bosannya menyemangati diri. Meskipun banyak kekalahan yang telah saya dapat
diawal, saya pastikan bahwa saya akan memenangkan permainan ini, dengan manis.
Saya akan mengangkat dagu diakhir
permainan. Menyunggingkan senyuman sambil melambaikan tangan. Ya, permainan ini
menjadi semakin seru. Akan ada lebih banyak kemenangan yang tercatat dalam
sejarah. Kemenangan yang terlihat kosong tapi sangat berkesan. Pemenang tanpa
pecundang. Yang ada hanya ego yang dikuasai. Ego yang berhasil dikendalikan. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar