Minggu, 01 April 2018

5.God's Gift: Sang Pemain

(lanjutan: kekalahan pertama)


pantas mulai bergumul dalam pikiran saya. Angka itu tak selugu bentuknya. Angka itu menyadarkan saya tentang apa yang telah saya lewatkan, tentang semua hal yang terjadi, tentang aturan permainan yang tidak mengijinkan saya untuk mundur. Saya mulai mengingat tentang adanya aturan itu. Inikah hal yang paling berharga dalam permainan?, tapi bagaimana mungkin. Itu bukanlah bagian dari saya. Ternyata saya lah yang menjadi bagian terkecil darinya, yang jika ia lenyap, maka saya hanya sejarah. Hal yang tidak bisa saya mohonkan terhadap Tuhan untuk dikembalikan. Hal tak kasat mata yang Tuhan ambil saat itu juga, setelah saya melaluinya. Hal yang memberi begitu banyak tanpa pernah meminta, ia datang kemudian pergi. Tanpa tegur sapa. ‘Ah, inikah kekalahan pertama saya?’ Ia merenggutnya tanpa kompormi. Semudah itu kah kekalahan dalam permainan ini didapat. Pagi ini tiba-tiba menjadi begitu gelap. Langit memang terliahat begitu biru, begitu cerah tapi jauh didalam sana, ada hitam yang bergumul karena kehilangan hal yang tidak akan pernah kembali. Kecewa karena merasa kalah. Bertarung tanpa tumpahan darah tapi lukanya begitu dalam. Mungkin itulah yang Tuhan tugaskan untuknya dalam permainan ini. Hal terduga ini, yang saya anggap hanya hal terkecil dalam sebuah permainan bisa membunuh saya dalam sekejap karena terkejut. Adakah hal-hal tak terduga lainnya yang Tuhan siapkan di dahan berikutnya?



Tropi Kosong 



Waktu mengajarkan tentang banyak hal. Tentang hal-hal yng tidak disadari sebelumnya, diungkapnya begitu keras, menampar sampai berbekas. Pelajaran-pelajaran yang nampak tidak hanya  didepan mata, tapi untuk melihatnya lebih dalam memerlukan energi pikiran yang lebih dahsyat. Cahaya yang lebih terang untuk menyinarinya. Saya dan malaikat dalam diri harus bekerja sama untuk menghadapi tantangan terbesar ini. Saya tak bisa mengalahkan nya sendirian. Semangat harus lebih besar. Seperti pondasi yang lebih besar menopang tiang yang menjulang ke atas Tak ada lagi kerunTuhan. Jangan lagi ada kekalahan. Kobaran semangat yang menyambar-nyambar untuk memulai menajdi bukti bahwa saya siap untuk menang. Saya akan buktikan kepada Tuhan bahwa saya dikirimkan untuk itu, untuk memenangkan permainan ini. Menuliskan sejarah saya dalam permainan dengan tidak ada lagi lilitan benang-benang kusut dalam lembaran. Malaikat dalam diri ikut bersiaga. Hari ini tidak akan lagi seperti kemarin atau lusa, hari ini harus lebih baik. Beruntunglah malaikat dalam diri merasakan semangat itu. Malaikat yang ada dalam diriku tidak pernah menyia-nyiakan setiap pelajaran yang ada. Ia melahap setiap potongan peristiwa dan situasi. Ia menjadi begitu rakus. Tak menyia-nyiakan lagi kesempatan. Ia belajar lebih dalam lagi mengenal aroma dan wangi-wangian disetiap potongnya. Pahit, asam, manisnya setiap potongan ia pelajari hingga ia mengerti. Ia memahami bahwa setiap lembar peristiwa itu memiliki rasa, rasa yang berbeda. Saya berpikir bahwa saat saya dan ia mengetahui banyak hal, akan lebih mudah menghadapi setiap tantangan. Melatihnya setiap waktu, hingga saat itu datang, kami tidak lagi terkejut, kami sudah siap. Permainan ini penuh tanda tanya, menurut saya itulah cara terbaik mengetahui setiap bagian yang ada, meski harus tercekik rasa pahit sekalipun. Karena kami sadar perjalanan itu masih panjang, setiap detik, setiap jengkal, harus ia pahami, agar tidak ada lagi penyesalan. Situasi permainan terus berubah. Waktu silih berganti datang dan pergi. ‘Saya tak boleh kalah lagi’ ucap malaikat dengan tidak pernah bosannya menyemangati diri. Meskipun banyak kekalahan yang telah saya dapat diawal, saya pastikan bahwa saya akan memenangkan permainan ini, dengan manis. Saya akan mengangkat dagu  diakhir permainan. Menyunggingkan senyuman sambil melambaikan tangan. Ya, permainan ini menjadi semakin seru. Akan ada lebih banyak kemenangan yang tercatat dalam sejarah. Kemenangan yang terlihat kosong tapi sangat berkesan. Pemenang tanpa pecundang. Yang ada hanya ego yang dikuasai. Ego yang berhasil dikendalikan. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar